KONFIRMASI PEMBAYARAN DISINI!

Torch — air putih bersoda

Blog Menu

5 HAL TAK BIASA YANG BIASA DI KYRGYZSTAN

Selama perjalanan ke berbagai negara, tentu saja saya menemukan banyak hal yang berbeda dari Indonesia. Mungkin sebenarnya untuk warga lokal, saya lah yang berbeda. Karena hal yang mereka lakukan itu sebenernya biasa-biasa saja untuk mereka.  Nah, biasanya hal-hal sehari-hari yang mereka anggap biasa ini lah yang mengejutkan saya. Seringkali saya mengalami gegar budaya/kecelakaan saat harus melakukan sesuatu yang sebenarnya biasa-biasa sajuntuk warga lokal.

Kalau hal ini terjadi, jadilah saya tersenyum bodoh, sementara warga-warga lokal tersenyum melihat tingkah laku si warga asing (dalam hal ini: saya) yang diluar kebiasaan mereka. Perbedaan-perbedaan ini bukan berarti satu hal yang buruk sih, hanya berbeda saja kok. Saya sendiri merasa beruntung karena mendapatkan pengetahuan dan kesempatan baru untuk mengenal warga lokal.

 Untuk kali ini saya akan mencoba bercerita 5 hal biasa (bagi warga lokal) yang tak biasa (buat saya si orang asing) di negara Kyrgyzstan. Eh! Ada yang belum tahu Kyrgyzstan dimana?? Kyrgyzstan adalah satu negara di Asia Tengah, terletak diantara Cina dan Uzbekistan. Negara ini dahulu juga menjadi bagian dari Uni Soviet. Memang masih banyak yanng belum tahu tentang negara ini. Indonesia saja tidak memiliki kedutaan besar disini. Tapi negara ini memiliki sejarah, tradisi dan budaya yang panjang bahkan konon warga negara ini masih keturunan pasukan berkuda era Jenghis Khan.

Sebelum ceritanya molor jadi sejarah kyrgyzstan, mari kembali ke 5 hal biasa yang nggak biasa di Kyrgyzstan.

Pertama, kendaraan umum  yang paling banyak beredar adalah marshrutka. Sama seperti di negara bekas Uni soviet lain, taxi dengan rute ini adalah peninggalan uni soviet. Cara menggunakannnya agak mirip angkot; tiap marshrutka ini punya rute tertentu, dimana kita bisa naik, bayar sejumlah uang 40 som, lalu turun di tujuan.

Bentuknya seperti van besar yang kalau di film-film biasa dipakai culik orang atau untuk anter duit ke ATM. Van yang besar ini membuat penumpang duduk lebih nyaman, kecuali kalau kepenuhan. Kalau penuh harus ada yang berdiri. Uniknya, kalau ada  perempuan masuk, para lelaki harus berdiri dan memberikan kursi pada perempuan tadi. Urutan hirarki penyerahan tempat duduk adalah nenek tua> kakek tua> ibu-ibu> wanita muda> anak perempuan > laki-laki dewasa> remaja laki-laki> anak lelaki kecil.  Jadi yang paling capek karena harus berdiri sepanjang jalan adalah anak lelaki kecil, sementara aturan ini tak berlaku untuk saya yang notabene orang asing, hahaha.

Orang-orang Menunggu Marshrutka
Orang-orang Menunggu Marshrutka

Kedua, Hati-hati dengan air mineralnya! Entah kenapa atau apa enaknya, warga kyrgyzstan ini sangat senang minum air yang bisa meletup! Air mineral mereka mayoritas memiliki kandungan gas sehingga bisa muncrat kemana-mana. layaknya minum kokakola, fanta, fefsikola, sprit hanya saja tidak ada rasanya. Hanya sodanya saja dan sedikit rasa pahit. Yuck!

Saya pernah mengalami pengalaman buruk ketika pertama kali membeli air mineral disini. Saat membuka tutupnya, sebelum sempat meminum, air bergas ini muncrat kemana-mana terutama pada celana saya- Meninggalkan noda basah layaknya pipis di celana. Sial!

Setelah itu saya paham, saat membeli air mineral harus bilang “BIZ  GAZ” atau tanpa gas, lalu  saya akan dapat minum air mineral normal seperti di Indonesia.

Ketiga. Mungkin karena legaknya berada di daerah perbatasan asia dan rusia, atau mungkin juga karena lebih dekat dengan Eropa, atau apalah. Apapun alasannya yang jelas, banyak sekali wanita-wanita cantik di negara ini. Wajah-wajah eksotis campuran rusia dan asia, atau murni rusia bertebaran dimana-mana, terutama di Ibu Kota Bishkek.

Kyrgyzstan, Tempat yang Menarik untuk Cuci Mata
Kyrgyzstan, Tempat yang Menarik untuk Cuci Mata

Saya ingat saat pertama kali sampai dan butuh informasi kendaraan umum. Saya bertemu seorang perempuan cantik yang tampak bete. Karena gak ada siapa-siapa lagi, terpaksa saya bertanya ke wanita yang mungkin bete karena berantem sama pacarnya. Dalam Bahasa Inggris saya bertanya tentang Marshrutka No. 830 arah Bishkek. Ia lalu mengangguk, mulai tersenyum lalu menunjuk No. 830. Saya lalu bilang “thanks”, dia lalu tersenyum manissss sekali dan bilang “you’re welcome”.

That smile made my day! Saat itu saya merasa senang bertemu dia, semoga ia juga senang bertemu saya (atau dia sebenernya senyum-senyum karena lihat backpacker udik nyasar hahaha). Sayangnya dia naik kendaraan berbeda, jadi deh ceritanya selesai disana.

Eh iya, untuk kaum hawa.. gak berarti kalau laki-laki kyrgyzstan tidak ganteng ya. Hanya saja saya tidak punya kapasitas dalam menilai kegantengan laki-laki.

Keempat! Gak kerasa udah sampai ke empat. Ganja dimana-mana! Iya saya bicara harfiah, ganja dimana-mana. Eits, Bukan orang yang doyan ganja yang banyak, atau lintingan ganja. Tapi beneran tanamannya. Memang konon tanaman ganja ini berasal dari Asia Tengah dan Selatan. Tanaman yang dilarang dimana-mana ini juga ilegal di negara ini. Hanya saja kelakuan si tanaman ini memang seperti ilalang, tumbuh liar dimana-mana tanpa diurus. Bahkan di tepian trotoar pun ada ganja liar. Tapi konon karena tumbuh liar gak terurus, daun ganja ini gak ada gunanya kalau dihisap, Kadar THCnya rendah.

Ganja Liar di Halaman
Ganja Liar di Halaman

Kelima. Apa ya yang kelima? Hmm.. apakah minuman negara mereka masuk ke hal yang gak biasa? Tentu saja! Mereka minum kumis! Bukan kumis yang diatas bibir tapi ‘kumis’ atau koumis atau  kumys ini adalah satu minuman beralkohol khas negara-negara suku nomad yang terbuat dari susu kuda betina.

Ada cerita, saat-saat Kyrgyzstan baru membuka diri pada dunia luar dan menggalakkan pariwisata. Pemerintah bagian pariwisata setempat yang entah apa namanya memberikan kumis (kumis yang minuman) gratis pada para wisatawan mancanegara yang datang. Hasilnya? Alih-alih menjadi terkenal, jalanan kota-kota wisata di negara ini penuh dengan ceceran muntah. Muntahan para wisatawan yang gak tahan sama rasa ‘si kumis’. Lagi-lagi ini konon ya, entah benar atau tidak.

Yang jelas gak semua orang suka ‘kumis’.
 
Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20