KONFIRMASI PEMBAYARAN DISINI!

Torch — angkutan umum

Blog Menu

ON THE WAY TRIDATU, LAMPUNG!

Halo Sobatorch, ada yang pulang mudik libur lebaran kemarin?

Macet? Terlalu banyak orang dan barang dalam kendaraan? Tapi mungkin itu yang bikin mudik jadi khas. Penuh, dimana-mana penuh. Omong-omong tentang penuh, saya jadi teringat satu bagian perjalanan saya. Saat kendaraan yang saya naiki penuh gila, padat banget. Kejadian ini terjadi saat saya masih berada di Indonesia, tepatnya perjalanan menuju Simpang Tridatu, pintu masuk Way Kambas.

Saat itu adalah hari perjalanan kedua, pagi itu saya sampai di Kota Bandar Lampung jam setengah delapan pagi. Saya sempat bertemu teman dan istirahat sebentar di rumahnya. Kami membahas tentang suatu benda yang banyak menghiasi kota Bandar lampung. Benda ini juga yang membuat khayalan saya melayang dan membayangkan piring terbang UFO. Ternyata  benda itu adalah Siger, perhiasan khas lampunng yang dulu digunakan oleh wanita lampung.

Di tengah bahasan tentang siger dan lampung.  Saya mendapatkan informasi kalau sangat sulit mencapai Way Kambas dengan angkutan umum. Belum lagi ditambah mitos kisah-kisah kejahatan di jalan. Pokoknya jalan terbaik ke Way Kambas adalah dengan berangkat sepagi mungkin ke sana. Sementara saya baru saja tiba.

[caption id="attachment_3381" align="aligncenter" width="645"]Siger khas Lampung menghiasi lampu di kota Bandar lampung. Siger khas Lampung menghiasi lampu di kota Bandar Lampung[/caption]

Tak ingin kehilangan waktu, jadilah 105 menit kemudian saya kembali berada di jalanan. Meninggalkan rumah kawan tadi dan kembali memasuki Terminal Bis Rajabasa yang terkenal menyeramkan.  Untungnya tak ada peristiwa apa-apa disini. Mungkin karena masih pagi atau tampilan saya yang tidak menarik untuk dipalak atau terminal ini sudah aman dari preman.

Jadilah saya naik Bis Djawatan Angkutan Motor Repoeblik Indonesia atau lebih dikenal Bis DAMRI ke kota Metro. Harganya hanya dua belas ribu rupiah saja  sampai Metro. Di kota kecil ini saya harus menemukan travel ke arah Tugu Gajah Tridatu. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 pagi, sementara tak ada kendaraan yang berangkat ke Tridatu.

Saya lalu bertanya pada petugas terminal tentang kendaraan ke Tridatu. Beliau lalu melihat jam dinding, berpikir dan menggeleng-gelengkan kepala. Tak ada kendaraan dari sini, bahkan sudah terlalu siang untuk berangkat ke Tridatu. Beliau lalu menyuruh saya pergi ke daerah Candra di kota Metro. Mungkin masih ada harapan disana.

Berbekal petunjuk pak petugas, saya lalu pergi bersama tukang ojeg menuju Candra. Candra rupanya adalah satu kawasan ruko, tampak sebuah minibus elf terparkir disana. Satu-satunya kendaraan yang tersisa ke pertigaan Tridatu. Rupanya untuk jurusan yang saya tuju hanya ada 3 trip perhari dan yang saya naiki adalah trip terakhir.

Beradasarkan petunjuk kenek minibus, ada aturan yang mesti diikuti oleh para penumpang.

Pertama-tama, semua barang bawaan harus ditaruh diatap. Waks!! Tas berisi laptop plus kamera saya harus ditaruh di atap! Dengan enggan dan penuh kekhawatiran saya meletakkan tas 40 liter saya. Untuk perjalanan jauh, saya meletakkan semua barang dalam 1 tas supaya mudah untuk berpindah-pindah. Saat itu saya hanya bisa percaya kalau saya sudah mengatur semua barang saya dalam posisi aman. Aman dari benturan dan kecurian.

Dua, ketika masuk ke dalam kendaraan, lipat kaki dan buat senyaman mungkin. Untuk saya pribadi, posisi duduk ini sangat gak nyaman, kaki terpaksa ditekuk 45 derajat, dan ujung lutut menyentuh punggung kursi depan.

Aturan ketiga sampai kelima adalah buatan saya sendiri. Tiga, menunggu sampai bis berangkat. Empat, jangan mengeluh. Lima, bantu penumpang lain dengan memangku barang atau penumpang lain.

[caption id="attachment_3382" align="aligncenter" width="476"]Tebak ada berapa penumpang disini??? Tebak ada berapa penumpang disini???[/caption] Aturan ini saya buat karena ternyata mini bis yang berkapasitas 15 orang, dengan komposisi 4-4-4-3 (3 termasuk supir dan dua penumpang di depan) diisi dengan.... 32 orang! Termasuk supir, kenek 1 anak kecil dan 3 bayi. Pak supir bahkan terpakasa menolak orang-orang yang meminta ikut naik untuk pulang ke kampungnya, karena minibus sudah terlalu penuh. Terpaksa mereka malam ini menginap di kota Metro. Entah menginap di keluarga jauh, mesjid atau apa. Saya hanya bisa bertanya-tanya.

Tentu saja kami semua menderita dalam perjalanan 3 jam ini. Hebatnya para penumpang yang kesempitan dalam kendaraan ini bisa menertawakan kondisi ini. Setiap ada penumpang yang naik, selalu ada komentar “wuih dadi pindang iki” lalu ada ibu-ibu mengomentari “kok tega-tegane” lalu ada lelucon lain dilontarkan dalam bahasa jawa, karena mayoritas penduduk disini adalah transmigran dari Pulau Jawa.  Tetapi semua penumpang tertawa-tawa, terutama saat ada nenek yang berkata “wess, bubar rengginang’e”,  rupanya ia membawa bungkusan oleh-oleh kerupuk rangginang untuk handai-taulannya yang hancur berantakan akibat desakan penumpang.

Juga ada rasa was-was kalau-kalau ada barang terlempar dari atap setiap minibus melalui polisi tidur atau jalan jelek.

Berkat perasaan sepenanggungan para penumpang, perjalanan 3 jam terlipat dalam minibus seharga 25ribu rupiah ini tak terlalu terasa berat. Rasa khawatir akan barang-barang diatas juga terlupakan. Akhirnya saya bisa sampai di Simpang Tridatu dan melanjutkan perjalanan saya tanpa kurang suatu apa pun. Laptop dan kamera untungnya sehat walafiat.

Oh iya saya lupa kalau ada aturan ketujuh, berdoa.

Karena selain barang-barang penumpang diatas diatap minibus, ada 337 liter bensin dan solar diatap minibus. Darimana saya tahu? Mudah. Minibus kami sempat berhenti di pompa bensin dan mengisi jerigen-jerigen bahan bakar tepat diatas kepala kami =)))).

Cadas pisan!
 
Written by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20 (ig)