KONFIRMASI PEMBAYARAN DISINI!

Torch — chalafati

Blog Menu

Makan Nasi Rasa Dupa? Sikaaaat Mang!

Ada beberapa pertanyaaan yang sering dilontarkan oleh orang-orang saat mereka mendengar saya melakukan perjalanan 181 hari ini. Salah satunya adalah, “nyuci bajunya gimana?”. Tapi sekarang bukan pertanyaan itu yang akan saya bahas. pertanyaan yang akan saya bahas adalah pertanyaan yang lebih sederhana; “makannya gimana?”

“Make mulut tentu saja.”

Anehnya banyak orang yang nggak puas kalo saya jawab seperti itu. Padahal itu bener kan? Kalo makan memang make mulut.

Karena banyak orang yang merasa itu bukan jawabannya, jadi sekarang saya akan bercerita pengalaman menarik saya tentang makanan.

Pertama-tama, saya akan bercerita tentang makanan paling menyeramkan yang saya makan selama perjalanan 181 hari tersebut. Bisakah sob-sob tebak apa makanan itu? Kalau sob menebak makanan paling menyeramkan yang saya makan adalah bilatung, sob salah! saya memang makan bilatung, jangkrik, kalajengking di Thailand, tapi itu rasanya biasa aja. Bahkan orang thailand memang makan binatang-binatang tadi sebagai kudapan.

Nah, makanan paling menyeramkan versi saya adalah saat di India, satu porsi Nasi briyani di waralaba ayam goreng tepung terkenal berlogo kakek-kakek kolonel berkacamata.  Sebenernya sih rasanya nggak seberapa buruk, tapi baunya itu lho. Orang India terkenal royal menggunakan rempah-rempah ke dalam makanannya, kebetulan saja rempah yang digunakan untuk nasi briyani ini adalah berbau dupa. Jadilah nasi ini berbau harum dupa seperti pada upacara-upacara pemanggilan arwah leluhur.

Tadinya saya berpikir bau ini ngga akan ganggu-ganggu amat. Tentu saja saya habiskan itu Briyani. Tapi saya lalu bersendawa, dan terasa semriwing bau dupa muncul dari dalam perut dan menyebar ke penjuru Panca indera. Sangat memuakkan. Rasanya seperti mau muntah. Rasanya ada genderowo yang mau keluar dari tubuh saya. Mungkin para  leluhur keberatan terlalu lama dalam perut saya.

Pengalaman lain yang menarik tentang makanan adalah di negeri Cina. Entah kenapa saya punya banyak sekali kenangan disini. Di negara yang kini disebut dengan Tiongkok ini, saya terpaksa sarapan mie sapi nyaris tiap hari selama 3 minggu berturut-turut! Salah saya sih yang hanya bisa melafalkan nama makanan ini dan dimengerti oleh orang setempat.

Suatu hari saya sempat  merasa nggak enak badan di kota kecil di pinggiran Tibet.  Saat malam tiba dan saya harus makan, jadilah saya pergi ke warung makan dan memesan makanan. Kebetulan pada ada satu kanji yang saya tahu yaitu..  mie sapi (nyuru mian - *bisa minta nyari kanji mie sapi? Browsing beef noodle in Chinese) jadilah saya memesan itu. Tak beberapa lama keluarlah satu mangkuk hangat mie sapi kuah pedas.  Hangat dan nikmat, membuat kondisi saya membaik.

Mie sapi di kota Litan.
Mie sapi di kota Litan

Keesokan harinya, saya berminat memesan makanan yang sama (jangan-jangan saya ketagihan mie sapi). Jadi saya pergi ke warung yang sama lalu menunjuk kanji yang sama dan menunggu makan siang saya datang.

Sup Sapi Cina
Entah makanan apa ini di warung yang sama di kota Litan

Jeng-jeng, tak lama kemudian pesanan saya tiba. Tapi kali ini bukan mie sapi sodara-sodara… makanan yang keluar ini berkuah dan sama sekali nggak ada mie di dalamnya. Dilanda kebingungan,  saya lalu mencoba menjelaskan kalo itu bukan pesanan saya. Tapi si mbak penjaga warung yakin kalau itu pesanan saya. Tambah bingung karena beda bahasa, akhirnya saya makan juga makanan yang keluar itu, satu porsi sup pedas rasa… Sapi!.

Makanan di negara Iran adalah yang paling tidak menarik bagi saya. Di negara ini yang saat itu masih diembargo Amerika Serikat, makanan yang paling mudah saya temui disana adalah… Fastfood! Burger, hotdog dan pizza dimana-mana! bahkan jenis  makanan ini lebih mudah ditemui dibanding toko makanan khas Iran. Oiya, salah satu menu terpopuler mereka adalah burger isi mie goreng!

Pernah saya diundang untuk sarapan bersama warga lokal kota Tabriz. Jam 9 tepat saya sampai di rumahnya.  Bapak yang bernama Ali lalu mengajak saya makan chalafati untuk sarapan. Makanan yang bernama chalafati memang konon terkenal untuk sarapan. Bahkan toko yang kami singgahi memiliki jam buka dari jam 4 sampai 10 pagi saja. Ternyata chalafati ini adalah rebusan daging kepala dan kaki kambing ditemani sup kaldu kambing yang dimakan dengan roti tipis. Agak mirip dengan sop kaki kambing di Indonesia, hanya saja chalafati ini hambar. Jadi pagi itu saya makan daging pipi, lidah, jeroan dan kaki kambing untuk sarapan!

Di kota Bishkek, Kyrgysztan, saya berkesempatan menjajal daging kuda (bahkan menghabiskan jatah beberapa orang). Walau sekarang mereka hidup di perkotaan, leluhur penduduk Kyrgyzstan adalah suku nomaden berkuda yang mungkin masih terkait dengan Jengis khan. Kebudayaan Nomaden inilah yang membuat warga Kyrgyzstan sangat menghargai kuda. Makanya daging kuda harganya sangat mahal. Sangat mahal sampai-sampai daging kuda hanya disajikan saat ada acara kematian.

Apabila ada yang wafat, keluarga almarhum lalu akan menyembelih kuda yang terbaik dan membagikan dagingnya pada sanak saudara dan handai taulan. Mereka percaya kuda ini akan menjadi kendaraan almarhum menuju surga. Sayangnya kegiatan ini hanya bisa dilakukan oleh keluarga kaya raya. Harga kuda terlalu mahal untuk sebagian besar warga perkotaan di Kyrgyzstan. Beruntung masih banyak kuda di pedalaman Kyrgyzstan, kalau di Indonesia mungkin almarhum lebih senang ke surga naek motor bebek matic.

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20