KONFIRMASI PEMBAYARAN DISINI!

Torch — laos

Blog Menu

Sungai Mekong, Saya Datang!

Pada bulan Juli tahun 2014, saya mendapatkan kesempatan untuk berpindah negara dari Thailand ke Laos melalui Sungai Mekong. Sungai Mekong inilah yang memisahkan antara Thailand dan Laos. Saya berpindah negara melalui sebuah jembatan yang menghubungkan sisi Thailand dan sisi Laos. Jembatan ini menghubungkan antara kota Chiang Kong, Thailand dan kota Houay xiay, Laos. Setelah mencapai Houxiay, barulah perjalanan sebenarnya dimulai.

Dari Houay Xiay, untuk mencapai tujuan saya ke kota Tua Luang Prabang membutuhkan waktu 2 hari perjalanan dengan slow boat (semalam menginap di Pagbeng), atau 4 jam perjalanan dengan speed boat, atau entah berapa jam perjalanan melalui jalan darat. Saya lalu memilih slow boat.

Perjalanan hari pertama berlalu menyenangkan, banyak sekali pemandangan menarik selama perjalanan. Saya bisa melihat perbukitan Laos, kampung-kampung dimana para penduduknya menunggu kedatangan perahu kami untuk mengirimkan paket, surat atau menjemput sanak saudara. Kadang saya bahkan bisa melihat gajah peliharaan yang dimandikan penjaganya.

Namun, ada alasan kenapa perahu ini dinamakan slow boat. Perahu dengan kapasitas 60 orang ini memang berlayar sangat-sangat lambat. Membutuhkan kegiatan lain untuk mengisi waktu dan menghindari kebosanan. Beruntung saya bepergian dengan kamera saya ;)

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

Tantangan Berpuasa di 'The Land Locked Country'

Berpuasa dalam perjalanan bukanlah satu hal yang biasa saya lakukan. Tetapi pada Bulan Ramadhan taun 2014, saya harus berpuasa sebulan penuh dalam perjalanan. Rasanya puasa di perjalanan itu gak banyak berbeda dengan puasa biasanya, tetep puasa normal dari sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam tanda waktu berbuka. Cuma saja tidak selalu ada adzan berkumandang, pedagang kolak atau pedagang lain yang buka sampai sahur tiba.

Mengetahui Waktu Berbuka

Untuk mengetahui waktu Adzan, imsak atau saat berbuka, saya sangat bergantung pada Apps waktu shalat yang ada di smartphone yang saya bawa. Banyak sekali apps yang bisa digunakan diantaranya Alqibla, Athan, Prayer Times, dll.  Satu hal yang mesti diperhatikan adalah saat melakukan perjalanan yang cukup jauh, saya harus bersabar menunggu apps-apps tadi menyesuaikan antara waktu solat dan lokasinya. Jangan kuatir, A-GPS pada smartphone akan tetap aktif asalkan GPS dinyalakan walau tak ada sinyal telepon sekalipun.

[gallery size="medium" ids="3140,3141,3139"]

Tidak punya smartphone? Atau kuatir kehabisan batere smartphone? Yasudah... buka internet, cari  dan catat waktu adzan lokasi tersebut. (Gak tahu cara memakai internet? lalu kok sekarang bisa buka blog ini :p ). Bahkan kalau tak ada informasi apapun, kita bisa lihat posisi matahari untuk memperkirakan waktu shalat.

Memang dari semua metode diatas, tidak bisa menjamin waktu solatnya tepat 100%. Mungkin bisa berbeda beberapa menit. Tetapi setidaknya perkiraan yang kurang tepat lebih baik daripada gak nyobain apa-apa. Tentu saja, lebih baik gak sengaja buka puasa kecepetan daripada gak buka puasa sama sekali.. hhe.

Persiapan Sahur

Eh, ada hal lain yang harus disiapkan nih kalo puasa pas perjalanan.

Sahur...

Iya sahur! Masalah ini agak tricky karena saya harus menyiapkannya dari malam saat berbuka puasa. Ada satu, eh dua pelajaran pahit yang mengakibatkan saya gagal sahur.

Satu, berhati-hatilah pada memilih makanan untuk sahur!

Saat berpuasa di Laos, negara yang dijuluki 'The Land Locked Country', tepatnya di kota PagBeng,  saya terpaksa membuang roti sandwich untuk sahur karena mayonaise, selada dan acarnya sudah memiliki aroma yang sangat menggoda dan menarik! Untuk lalat! bukan untuk manusia normal seperti saya. Alhasil hari puasa ke-18, saya harus sahur dengan coklat dan snack lain yang untungnya selalu  saya siapkan untuk keadaan darurat. Di kota mungil mirip dusun ini gak mungkin jalan-jalan dini hari untuk cari makanan.

[caption id="attachment_3142" align="aligncenter" width="518"]Roti Baguette untuk Sandwich Khas Laos Roti Baguette untuk Sandwich Khas Laos[/caption]   Kedua, berhati-hatilah pada bantal dan tempat tidur!

Serius! Hari ke-21, saya sudah menyiapkan roti sandwich ayam tanpa mayonaise, telor, selada dan acar (tentu saja hasil belajar dar kejadian sebelumnya) lengkap dengan tambahan buah-buahan yang sudah disiapkan. Eh, saya ketiduran.

Ketika di Thailand dan Malaysia, saya masih bisa makan sahur berupa nasi hasil bungkus atau dari toko waralaba 24 jam. Berbeda saat di Laos, saya hampir selalu menggantungkan nasib sahur saya pada sandwich ala Prancis. Untungnya Bangsa Laos yang bekas jajahan Prancis ini mampu memasak roti Baguette seenak bekas penjajahnya itu. Selain roti sandwich Baguette, saya juga melaha pizza. Satu dus pizza instan dan satu pak biskuit rasa ayam dari sebuah warung pinggir jalan di kota Muang Xai, Oudomxay.

[caption id="attachment_3143" align="aligncenter" width="514"]IMG_7035 Satu Bungkus Biskuit Ayam dan Pizza Instan[/caption]

PS: Bagaimana rasanya berpuasa diantara semua orang yang gak puasa? Pasti banyak dong melihat makanan dan orang-orang makan pas masih puasa? Jawabannya adalah... Biasa aja. Memang saya banyak melihat makanan dan orang makan saat saya berpuasa dalam perjalanan. Tapi saya tidak melihat ada masalah apa-apa. Toh, saya puasa untuk menahan diri dari nafsu, lapar dan haus, bukan menahan orang lain dari apa yang mereka percaya.

  Written by: Icak Darmastyo (ig: @darmastyo) Edited by: @hanie_20