KONFIRMASI PEMBAYARAN DISINI!

Torch — menyeramkan

Blog Menu

8 TRADISI PALING ‘SADIS’ DI DUNIA (17+)

Setiap negara memiliki budaya dan tradisi yang unik serta menarik , tapi ada beberapa negara yang memiliki budaya dan tradisi tak biasa bahkan cenderung menyeramkan dan sadis. #TorchID telah 'menobatkan' 8 tradisi dari berbagai negara dibawah ini sebagai tradisi paling sadis di dunia.

1. Ritual Asyura, Kaum Syiah (Iran, Irak, India, Pakistan)
Ritual Asyura Kaum Syi'ah
Ritual Asyura Kaum Syi'ah
 

Sebagai ungkapan kesedihan atas  kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Hussein Bin Ali, kaum Syiah di seluruh dunia  melakukan tradisi atau ritual yang disebut Asyura. Asyura ialah ritual melukai diri sendiri dengan beda tajam seperti belati, pedang dan sebagainya sambil mengangis dan berteriak  hingga bersimbah darah. Dengan melakukan tradisi ‘sadis’ ini, mereka percaya akan diberkahi dengan pahala dan diampuni segala dosa-dosanya.

2. Kanibalisme, Suku Pedalaman Papua Nugini
Kanibalisme Suku Pedalaman Papua Nugini
Kanibalisme Suku Pedalaman Papua Nugini
 

Beberapa suku di pedalaman hutan Papua Nugini konon masih menjalankan tradisi kanibalisme. Menurut surat kabar lokal, Papua New Guinea Post Courier, seorang pria tertangkap basah membawa anak perempuannya ke dalam hutan lalu membunuh serta memakan  dagingnya. Seakan tak cukup, ia pun mengaku meminum darah putrinya itu. Tradisi sadis ini kabarnya telah dilakukan sejak abad 19 oleh Suku Tolai. Di tahun 1978, mereka membunuh tiga menteri dan tiga orang guru Fiji yang kemudian dimasak dan dimakan ramai-ramai.

3. Setrika Dada, Kamerun
Setrika Dada, Tradisi Gadis Kamerun
Setrika Dada, Tradisi Gadis Kamerun
 

Berbeda dengan wanita modern yang menginginkan dada yang menonjol dan indah, sebagian besar wanita di Kamerun yang masih memegang teguh adat dan budayanya menganggap dada atau payudara menonjol sebagai hal buruk dan dapat membangkitkan nafsu birahi pria. Oleh karenanya, setiap gadis yang beranjak remaja harus ‘menghilangkan’ tanda kewanitaannya itu dengan cara ‘disetrika’ menggunakan besi atau kayu panas. Setelahnya, mereka juga masih diwajibkan menggunakan korset untuk menyamarkan bentuk dada.

 4. Harakiri, Jepang
[caption id="attachment_3878" align="aligncenter" width="350"]Harakiri Samurai Harakiri, Tradisi Bunuh Diri Samurai[/caption]

Untuk membuktikan keberanian serta kesetiaan, para pemimpin tertinggi samurai di Jepang ‘rela’ melakukan tradisi bunuh diri yang disebut harakiri. Tradisi bunuh diri ini dilakukan para samurai dengan cara merobek serta mengeluarkan isi perutnya. Sebelum melakukan harakiri, konon mereka harus melakukan beberapa ritual terlebih dahulu. Dimulai dari mandi, mengenakan jubah putih serta memakan makanan favorit. Dalam melakukan tradisi sadis ini, mereka juga ditemani oleh seorang pelayan (kaishakunin) yang dapat mereka pilih sendiri. Tugas seorang kaishakunin ini tak kalah sadis, selain mengambilkan pisau yang dipakai untuk melakukan harakiri, ia juga bertugas untuk ‘mengurangi’ penderitaan  sang samurai dengan cara memenggal kepalanya untuk mempercepat proses kematian.

5. Eunuchs, Tiongkok
Eunuchs, China
Eunuchs, China
 

Eunuchs ialah tradisi kebiri (memotong habis alat vital) yang dilakukan oleh para kasim istana di Tiongkok. Dimulai pada abad ke-21 SM hingga tahun 1912, beberapa kasim berhasil memegang jabatan tinggi di istana bahkan kekuasaannya dapat melebihi perdana menteri. Pada akhirnya di tahun 1912, para kasim tak lagi dipekerjakan. Mereka lalu diberikan jabatan-jabatan PNS (pegawai negeri sipil) yang cukup tinggi sebagai ‘kompensasi’ karena mereka tak bisa memiliki keturunan. Hal ini juga yang mendasari kepercayaan pemerintah, karena dengan tak memiliki anak, mereka tak akan tergoda untuk merebut kekuasaan dan melakukan hal-hal yang merugikan, semisal korupsi.

6. Tradisi Mingi, Suku Karo dan Hamar-Ethiopia
Tradisi Mingi, Ethiopia
Tradisi Mingi, Ethiopia

Memiliki anak tentunya merupakan momen bahagia bagi para orangtua di seluruh dunia. Tapi apa jadinya bila anak yang telah susah payah dilahirkan harus dibunuh?

Ya, ini yang terjadi pada bayi-bayi Suku Karo dan Hamar di Ethiopia. Setiap bayi yang lahir dan ‘dianggap’ cacat atau Mingi oleh ketua adat harus dibunuh karena dipercaya akan membawa bencana bagi seluruh anggota suku. Dikutip dari anehdidunia.com, bayi yang dianggap Mingi ialah bayi yang lahir tanpa izin ketua adat, bayi kembar, bayi dengan cacat fisik, bayi yang gigi pertamanya tumbuh di rahang atas (berlaku juga untuk anak-anak yang gigi susunya lepas), serta anak yang lahir dari ayah yang tidak berhasil melakukan tradisi lompat kerbau sebelum menikah. ‘Bayi Mingi’ tersebut kemudian dibunuh secara sadis dengan dibuang ke rawa-rawa hingga dimakan binatang buas atau dilempar ke sungai untuk menjadi ‘santapan’ para buaya.

Saat ini, pemerintah Ethiopia telah melarang tradisi Mingi dan menawarkan bantuan panti asuhan pada bayi-bayi yang dianggap Mingi agar tak menjadi korban.

7. Sayat Perut, Etnis Tiv- Nigeria
Sayat Perut Etnis Tiv, Nigeria
Sayat Perut Etnis Tiv, Nigeria
 

Hampir sama dengan para gadis di Kamerun, gadis-gadis etnis Tiv di Nigeria juga harus mengalami ‘siksaan’ yang luar biasa ketika beranjak dewasa (remaja). Saat pertama kali mendapatkan haid, gadis etnis Tiv harus menjalani ritual sayat perut yang amat menyakitkan sebagai simbol kedewasaan.  Sadisnya, tradisi berbahaya ini dilakukan dalam keadaan sadar tanpa pembiusan atau penanganan medis. Etnis Tiv percaya bahwa tradisi sayat perut dapat meningkatkan kesuburan para gadis.

8. Ritual Kaum Agoris, India
Ritual Kaum Agoris, India
Ritual Kaum Agoris, India
 

Kaum Agoris ialah sebuah sekte perpecahan agama Hindu yang masih melakukan praktik kanibalisme hingga saat ini. Mereka memakan daging dari mayat-mayat yang mengambang di sungai Gangga. Dengan melakukan ritual ini, mereka percaya bisa hidup abadi dan mendapatkan kekuatan supranatural.  Selain itu, mereka juga minum dari tengkorak manusia yang dipercaya dapat memberi manfaat baik secara kejiwaan/spiritual maupun fisik (sebagai ‘obat’ awet muda).

#Sumber gambar & bahan tulisan berasal dari beberapa web dan blog.
Written by: @hanie_20(ig)