KONFIRMASI PEMBAYARAN DISINI!

Torch — nebeng

Blog Menu

CARI TEBENGAN SAAT BACKPACKING? SIAPA TAKUT SOB!

Liften, nebeng, hitchhike atau numpang adalah satu cara untuk melakukan perjalanan dengan kendaraan orang lain yang bisa jadi belum kita kenal, biasanya juga yang menyetir kendaraan tersebut bukan kita, sampai akhirnya kita bisa mencapai tujuan kita. Umumnya bisa dilakukan dengan gratisan atau minimal menyumbang ongkos ganti bensin saja. Apabila kita harus membayar lebih dari itu, itu namanya bukan nebeng dan sangat mungkin kita salah naik kendaraan. Kalau itu sampai kejadian seperti itu mungkin sebenarnya kita naik taksi dan bukannya nebeng.

Budaya nebeng ini agak kurang umum di Indonesia, tapi sebenarnya budaya nebeng ini banyak dipakai di perbagai negara di dunia sebagai media traveling yang murah, walaupun murah relatif sih ya. Bisa jadi kita harus membayar lebih “mahal” kalau kebetulan si orang yang kita tebengin itu menyebalkan, bau badan, tebar pesona dan ngegombalin kita mulu.

Nah, sob pernah coba nebeng? Seru lho! Banyak banget pengalaman baru (dan juga teman baru) yang bisa didapat berkat nebeng. Kalau belum pernah, cobain deh sekali-kali cari tebengan ketika sedang traveling. Lumayan siapa tau tiba-tiba ketemu jodoh (asal bukan si supir yang bau badan dan suka tebar pesona tadi).

Tentang nebeng, saya pernah bertemu traveler unik dari Lituania yang kebetulan bisa 8 bahasa dan bisa belajar bahasa cepet banget- bakat turunan dari kedua orang tua yang linguist (ahli bahasa). Oiya si traveler unik ini mencoba travelling dari negaranya sampai Thailand dengan cara nebeng. Saat itu dia sudah berjalan hampir 5 bulan dan saya bertemu dia di Iran, entah kapan dia bisa selesai sampai Thailand.

Di negara Tiongkok yang luasnya agak-agak kurang ajar (luas Tiongkok tuh sekitar 9,6 juta km2 atau 1.3 trilyun luas lapangan bola), saya kebetulan dapat kesempatan untuk nebeng dari Kota Kangding ke Kota Chengdu. Saat itu saya bersama tiga orang Perancis yang kebetulan sedang kehabisan uang, mengumpulkan keberanian mencari tebengan warga lokal untuk membawa kita ke Chengdu. Perlu diingat, kalau secara umum Bahasa Inggris orang-orang Tiongkok agak buruk. Sementara kita? Kemampuan Bahasa Tionghoa dua orang dari kami hanya berguna untuk memesan makanan saja, satu orang lain cukup fasih mengucapkan halo dalam Bahasa Tionghoa sedangkan Bahasa Tionghoa saya hanya berguna untuk memesan mie sapi saja.

Pagi itu kami menentukan rencana penebengan kami. Rencananya sederhana, mencari mobil yang mau berhenti, bilang Chengdu lalu nebeng secara gratisan. Oiya kami juga membuat rencana untuk bertemu di Chengdu apabila tiap dari kami terpisah dan menumpang dalam kendaraan yang berbeda.

Satu, dua, hingga empat mobil melewati kami tanpa berhenti. Beberapa mobil terlihat mau malu-malu mau menampung tetapi gak jadi berhenti, mungkin karena melihat kami yang orang asing. Saya baru saja mau mulai skeptis, kalau kita gak akan dapat mobil tumpangan. Tiba-tiba sebuah mobil van buick buatan Amerika berhenti. Supirnya, seorang developer bangunan, bertanya tujuan kami. Ia rupanya sedang menuju Yaam, tapi ia bisa membawa kami ke Jalan Tol Xianshinmen sejauh 90 km dari lokasi kami sekarang. Melihat kami yang gak paham dimana Xianshimen, si supir lalu mengeluarkan peta.... dalam aksara Tiongkok! Tetep aja kami ga paham alias gabisa baca petanya! Supaya cepat, tanpa dikomando kami semua berpura-pura paham dan mengangguk-anggukan kepala menyetujui tawarannya.

Ternyata cukup mudah nyari tumpangan di Tiongkok. Kurang dari satu jam, kami sudah naik mobil van mewah disetirin satu orang kaya yang mampu berbahasa Inggris. Supir ini bahkan sudah beberapa kali ke Amerika Serikat, untuk roadtrip menyusuri pesisir barat Amerika. Tahun 2016 ia ingin kembali ke Amerika plesir-menyetir dari pesisir barat ke pesisir timur.

Mendekati jam 14 waktu setempat, tiba-tiba si supir berhenti dan mengajak kami makan siang. Ia lalu berhenti di satu tempat mewah yang nampaknya ada diluar jangkauan anggaran kami yang hanya backpacker biasa. Dem! Bisa ngehabisin anggaran 4 hari kalo gini! Tapi apa daya, sebagai penebeng miskin, kami paling akan menunggu beliau makan. Diluar... di parkiran

Pucuk dicinta ulam pun tiba, si supir menyuruh kami masuk dan makan bersamanya, Ditraktir! Menu siang itu adalah salad timun yang luar biasa enak, semacam sup ikan lele yang lebih enak lagi, dan bebek goreng! Ternyata restoran ini memang terkenal enak dengan masakannya. Terutama sup ikan lelenya, dengan satu ikan lele segede betis orang dewasa! Alhamdulillah makan enak, gratis, dianterin pula.

Sejenis sup ikan lele, 3 baskom besar ini hanya menggunakan satu lele segede betis!
Sejenis sup ikan lele, 3 baskom besar ini hanya menggunakan satu ekor lele segede betis!

Sekitar jam 19, kami sampai di pintu highway Xianshimen. Berfoto bersama lalu berpisah dengan supir yang baik hati tadi. Sekarang, saatnya mencari tumpangan jilid dua.

Setengah jam kemudian, satu mobil Ford Focus warna kuning berhenti depan kami. Hanya ada satu supir didalamnya, yang tampak agak gugup dan ragu-ragu. Mungkin ia mengira kami penjahat yang mungkin malak dia tengah jalan, sementara kami khawatir diturunkan ditengah jalan =)). Tapi ia menuju Chengdu! Cocok! Beberapa detik kemudian, kami berempat, bersempit-sempitan naik mobil supir baik ini ke Chengdu.

Si pemuda yang menyetir ini adalah seorang pekerja di Chengdu. Ia baru saja pulang dari kampungnya dan akan bekerja keesokan harinya. Ternyata ia gugup karena ingin belajar bicara Bahasa Inggris dengan orang asing, tapi juga takut karena kemampuan bahasanya pas-pasan. Salah besar! Bahasa inggirsnya bukan pas-pasan! Tapi minim sekali! Walau begitu, keberaniannya untuk mencoba patut dipuji. Ia mau membawa 4 orang asing berbadan besar (yang lusuh dan bau dimakan perjalanan) demi mencoba berbicara Bahasa Inggris!

Atas kebaikannya memperbolehkan kami menumpang, kami lalu mengajak ia berbicara dalam Bahasa Inggris. Yup, setiap orang dari kami mengajaknya berbicara, sampai secara tak sengaja, satu persatu dari kami ketiduran. Jadilah 2/3 perjalanan supir yang baik ini terpaksa kembali terdiam dan menyetir sendirian. Hahahaha...

Sekitar pukul 22.00 kami sampai di depan Mix Hotel, Chengdu. Sampai dengan selamat, tanpa mengeluarkan biaya apa-apa, juga ditraktir makan enak bahkan diantar oleh seorang pemuda baik yang gak bisa Bahasa Inggris. Sungguh pengalaman yang seru!

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20