KONFIRMASI PEMBAYARAN DISINI!

Torch — shilin stone forest

Blog Menu

ENJOY SHILIN, THE STONE FOREST

Selamat datang ke Shilin (), Stone Forest atau Hutan Batu. Suatu kawasan Taman Nasional karst di provinsi Yunnan, Tiongkok. Terletak 90 KM dari provinsi Kunming, kawasan ini memiliki luas 350KM2 dan beberapa lokasi termasuk dalam UNESCO World heritage Site. Terdiri dari jutaan jarum-jarum kapur yang menjulang ke langit, memasuki kawasan ini akan membuat kita merasa masuk ke dunia yang berbeda, satu hutan yang terbuat dari batu.

Banyak legenda yang beredar di hutan batu ini, salah satunya adalah cerita Ashima,  seorang wanita cantik dari Suku Yi. Ia jatuh cinta pada seorang lelaki bernama Ahei. Sayangnya Cinta mereka tak direstui. Ashima kemudian berubah menjadi batu dan menatap kejauhan berharap bisa melihat Ahei Lagi.

 

Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20

BERMALAM DI SHILIN, "THE MARS ON EARTH"

Mars? Lanjutkan membaca untuk tahu kisah dibalik foto ini.

Hari ke-55, menuju Shilin Stone Forest-China...

Waktu menunjukkan pukul 16.00 dan saya tiba di terminal kota Shilin. Sebuah kota terdekat dengan daerah hutan Batu Shilin. Disaat itu saya baru tersadar kalau saya ternyata salah naik bus. Bukan kesalahan yang pertama dan bukan pula kesalahan sama yang terakhir. Untungnya saya hanya terpisah beberapa belas kilometer dari tujuan saya.

Saya seharusnya naik bus yang berhenti di dekat gerbang Shilin Stone Forest, bukan yang menuju kota Shilin. Pasti di kota sebelumnya, si gadis manis penjual tiket salah memberikan tiket. Mungkin bukan sepenuhnya salah dia sih, ada sebagian kesalahan saya yang hanya bisa melafalkan “Shilin” dan terdiam seribu bahasa saat dia bertanya sesuatu. Dugaan awal saya adalah dia bertanya dari negara mana saya berasal atau jangan-jangan dia sebenernya mengajak saya kencan! Tapi sekarang saya yakin dia bertanya tentang kota tujuan saya. alhasil sampailah saya di terminal yang salah =)))

Tapi tak usah kuatir, saya berpengalaman nyasar kok ;).

Tak lama kemudian saya naik bus kota No.5 menuju hutan Batu Shilin (dan berdoa sudah naik bus yang benar). Kali ini saya melihat tebing batu besar yang tampak nyaman untuk dipanjat dan dipakai tidur, cocok dengan cerita yang saya dengar tentang Shilin, hutan batuan. Satu hutan dengan batu sebagai pohon-pohonnya.

Ada satu tebing batu besar tepat di area pintu depan Shilin. Setelah turun dari bus, hal yang pertama yang saya lakukan adalah berkeliling di tebing batu besar itu. Ketinggian tebing ini kira-kira hanya 6 -10 meter dan bukan jenis tebing untuk dipanjat. Tebing ini memiliki beberapa teras dan juga ada sebuah gua disana. Tampak ada bekas-bekas orang menginap di gua ini. Sebuah ide gila lalu muncul di kepala saya.

“Bagaimana kalau saya malam ini menginap disini? “

Saya lalu membayangkan asyiknya pemandangan tebing ini di waktu malam. Membayangkan mengambil foto startrails diatas tebing-tebing ini. hmm, menyenangkan..

Seperti yang saya bilang tadi, itu adalah satu ide gila. Saya tak membawa perlengkapan kemping apapun dari indonesia. Yang ada hanyalah headlamp dan satu buah selimut darurat buatan cina yang tampak tak berguna. Jadi saya kubur ide itu dan mulai turun tebing sebelum matahari terbenam, berharap masih ada waktu untuk mencari penginapan.

Ternyata nasib berpihak pada si tebing. Setelah dua jam berjalan kaki mencari penginapan, saya tidak menemukan tanda-tanda penginapan. Dengan rasa lelah plus sedikit rasa senang-ingin-berpetualang, saya lalu berjalan ke arah tebing tersebut.

Jam 10 malam, dalam gelap dan dibantu cahaya headlamp, ternyata tidaklah mudah menemukan jalan setapak yang saya gunakan sore tadi. Saya malah berkali-kali menemukan dinding vertikal di depan saya. Tak ingin berputar-putar, saya lalu memutuskan untuk memanjat. Yah, bukan murni memanjat secara wall-climbing, hanya wall scrambling (1).

Dengan membawa 2 tas dengan total berat 17 kg, saya harus berulang kali naik-turun untuk membawa barang-barang saya ke tingkat yang lebih tinggi. Bahkan ada satu bagian dimana saya harus melakukan stemming yaitu memanjat satu celah, dimana tangan dan kaki kanan saya menumpu pada dinding kanan, sementara tangan dan kaki kiri menumpu pada dinding kiri. Tapi celah itu nggak tinggi kok, tingginya hanya sekitar 2.5 meter, sementara lebarnya sekitar 70 cm.

Akhirnya saya mencapai satu teras puncak yang memiliki pemandangan bagus dan nyaman untuk beristirahat. Saya lalu mengeluarkan kamera dan mulai mengambil foto tebing itu di malam hari. Sayangnya langit terlalu berawan untuk mengambil foto startrail (2) .

Tiba-tiba saya melihat lampu senter handphone dibawah sana. Lampu putih ini terlihat terang dan mencari jalan keatas, ke tempat saya berada! 20 meter diatasnya. Pikiran saya lalu bertanya-tanya apa yang saya harus lakukan kalau ia mencapai tempat saya? Mengajaknya bicara? Nggak deh, saya nggak bisa Bahasa Cina. Gimana kalo dia petugas keamanan? Ups, mampus! Saya nggak tahu apa aturan menginap di alam terbuka di Cina.

“Coba bayangkan, apa yang akan dikatakan petugas keamanan cina tentang satu orang asing, menginap diatas tebing terbuka tanpa tenda, kantung tidur tanpa persiapan apapun?”

Saya nggak bisa berpikir terlalu lama, orang itu akan mendekat. Secara reflek saya lalu menyalakan lampu headlamp saya dan menyorot lampu hp itu. Berharap kalau orang yang membawa hp itu hanyalah orang iseng belaka seperti saya yang ingin naik keatas tebing malam-malam. Berhubung cahaya lampu headlamp saya lebih besar dan lebih terang. Saya berharap dia mengira saya petugas keamanan jadinya dia takut naik keatas tebing.

Berhasil! Lampu itu berhenti, lalu akhirnya berbalik dan berjalan ke bawah. Saya bisa bernafas lega, malam itu saya aman menginap diatas tebing (walau hanya tertidur ayam-ayam saja, kuatir ada petugas keamanan yang naik ketempat saya) dan agak kedinginan (selimut darurat buatan cina hanya setengah berguna, karena ternyata panjangnya hanya setengah saja, hahaha). Tak ada api unggun malam itu, karena saya nggak mau menarik perhatian petugas keamanan. Untungnya saya terlindung dari angin malam. Kebetulan saat itu malam musim panas, dimana suhu malam masih berkisar 26-29 derajat celsius. Sehingga saya terhindar dari kemungkinan hipotermia (kedinginan).

Pengalaman itu benar-benar mengesankan; Sendirian menaiki tebing di malam hari dan menginap diatas tebing di satu negara asing yang saya nggak bisa bahasanya. Menakut-nakuti dan mengusir orang iseng dari teritori tebing saya plus saya juga mendapat foto yang luar biasa! Benar-benar pengalaman yang mengesankan!

Tapi jangan ASAL TIRU sob! Hal ini bisa berbahaya dan gak direkomendasikan! Membutuhkan kebugaran, kesehatan, sedikit kegilaan dan nasib baik yang luar biasa. Saya sendiri juga heran loh, kok nggak ada insiden apa-apa di malam itu.

Mungkin saya sedang beruntung malam itu.

1) Scranmbling = Kegiatan antara wall-climbing dan hiking. Kegiatan menaiki tebing yang membutuhkan bantuan kedua tangan untuk naik keatas. 2) Startrails       = Foto long-exposure garis edar bintang di angkasa.
Written & documented by: Icak (@darmastyo)
Edited by: @hanie_20