PRODUK BARU

BEST SELLER

WAIST BAGS

TRAVEL POUCHES

MESSENGER BAGS

BACKPACKS

LIGHT TRAVEL BACKPACKS

TRAVEL BACKPACKS

OFFICE SERIES

PACKING ORGANIZER

CYCLING BAGS

HELMET BAGS

SMARTWATCH

GLOVES

ARRAFA SANDALS

BAHAMA SANDALS

T-SHIRT

SHIRTS

JACKETS

VESTS

PANTS

HAT

MASK

SAJJADA

WALLET

KEY CHAIN

MULTIFUNCTIONAL TOOLS

TORCH ACADEMY

PROGRAM RESELLER

KONFIRMASI PEMBAYARAN

This section doesn’t currently include any content. Add content to this section using the sidebar.

Image caption appears here

Add your deal, information or promotional text

This section doesn’t currently include any content. Add content to this section using the sidebar.

Image caption appears here

Add your deal, information or promotional text

5 "Nenek Moyang" Backpack dari Seluruh Dunia

Hanifa Muslima
Writer | Blogger | Sometimes Traveler

Tas punggung – lebih dikenal sebagai tas ransel atau backpack – merupakan wadah penampung barang yang terdiri dari dua tali memanjang vertikal melewati bahu dan dipakai di punggung. Bentuk umum dari jenis tas ini memungkinkan manusia membawa beban berat karena pinggul lebih kuat dari bahu, sehingga dapat menyeimbangkan tubuh serta mencegah beban mencederai tulang punggung.

Backpack sudah ada sejak zaman lampau, ketika masyarakat membutuhkan alat untuk membawa keperluan mereka yang semakin banyak dan berat. Selain itu, peperangan juga mempengaruhi perkembangan backpack baik dari segi desain maupun material. Sebelum berbahan kain seperti sekarang, model tas punggung zaman dulu bisa berbeda-beda, sesuai dengan identitas tiap budaya dan fungsinya. Tas punggung yang dibuat secara tradisional (biasanya dengan cara dianyam) bisa disebut sebagai tas keranjang atau bakul. Tas keranjang ini dipakai masyarakat zaman dahulu untuk membawa berbagai ragam barang, peralatan, atau hasil pertanian. Keranjang juga dibuat untuk kegiatan-kegiatan lain seperti memanjat, mendaki, memanen, berburu, hingga mengambil air.

Seni membuat keranjang adalah salah satu dari sekian banyak kerajinan kuno di dunia, dan masih belum ada asal-usul yang pasti dari mana dan siapa yang menciptakan alat ini. Walau begitu, desain dari jenis tas punggung yang jadul ini masih sering digunakan sebagai inspirasi untuk generasi penerusnya di zaman modern, lho! Penasaran bagaimana bentuk "ransel tradisional" dari berbagai negara? Biar lebih tahu, baca aja artikel ini sampai habis, Sob!

Bakul Tambok, Indonesia

Bakul Tambok berasal dari Kalimantan, Indonesia. Terbuat dari rotan, Bakul Tambok biasa digunakan oleh masyarakat Bidayuh, suku yang tersebar di tanah Sarawak, Malaysia serta bagian utara Kalimantan Barat. Mereka adalah kelompok masyarakat atau suku yang masih terhubung dengan suku Dayak dari rumpun Klemantan.

Bakul Tambok digunakan oleh masyarakat Bidayuh untuk mengangkut hasil panen mereka. Bakul Tambok berbentuk silinder dan memiliki empat sokongan kayu pada tubuhnya. Ia digunakan sebagai tempat hasil memanen dari hutan, serta untuk menyimpan padi atau beras. Bakul ini dibawa dengan cara yang tidak biasa, yaitu dengan cara memasang tali lebar bakul pada dahi pemakainya.

Gerla - Cista Cibaria, Italia

Hampir sama kegunaannya dengan Bakul Tambok dari Kalimantan, tas keranjang Gerla dari Italia ini juga dipakai rakyat Italia untuk menyimpan dan membawa hasil perkebunan mereka. 

Tas keranjang ini memang berasal dari Italia, namun ia juga memiliki akar budaya dari masa Roma lampau. Hanya saja, dulu tas ini tidak disebut dengan nama Gerla, melainkan dengan nama Cista Cibaria. Cara menggunakannya sama seperti tas ransel modern yang kita kenal saat ini, yaitu dengan mengaitkan kedua tali bahu pada pundak pemakainya.

Tragekorb, Jerman

Selain di Italia, keranjang anyaman tradisional juga banyak digunakan di negara-negara Eropa, dan salah satunya adalah Jerman. Tragekorb, yang secara harafiah berarti “woven basket” atau keranjang anyaman, digunakan oleh para petani untuk menampung hasil panen buah atau jamur mereka. Desain dari tas ini banyak menginspirasi tas anyam modern yang juga digunakan untuk memanen jamur saat ini. Tas macam ini sekarang bisa banyak ditemukan di daerah Amerika Serikat atau Italia.

Pasiking, Filipina

Tas tradisional ini diketahui pertama digunakan oleh berbagai suku di wilayah Luzon Utara, Filipina. Pasiking digunakan masyarakat Filipina yang tinggal di daerah pegunungan untuk membawa bermacam barang. Tampilannya yang rumit dikatakan memiliki unsur religius, namun tetap harus dibuat dengan nilai estetik tinggi.

Seluruh tubuh tas Pasiking terbuat dari rotan yang dianyam, sedangkan rumbai-rumbai yang terpasang dibuat dari serat daun panjang pada tanaman nanas. Tidak hanya mempercantik, tapi serat-serat itu juga berfungsi sebagai penahan air, sehingga masyarakat Filipina dulu tidak hanya menggunakan pasiking sebagai tas, tapi juga jas hujan. Jadi, bisa dibilang kalau Pasiking ini salah satu tas ransel dengan rain cover pertama yang pernah ada di dalam sejarah backpack. Menarik banget ya, Sob?

Doko, Nepal

Nepal adalah negara yang sering dituju para pecinta alam – terutama pendaki gunung atau hiker – yang ingin mendaki atau sekadar menikmati keindahan Gunung Himalaya. Salah satu kelompok masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah Himalaya ini adalah suku Sherpa.

Suku Sherpa sendiri sangat terkenal dengan keahlian memanjat dan mendaki gunung, sehingga mereka selalu dicari para pendatang untuk menjadi guide alias penunjuk jalan selama pendakian. Keahlian itu juga membuat Suku Sherpa sering dimintai tolong untuk menjadi porter yang membawa barang-barang para pendaki selama perjalanan. Selain tubuh yang kuat, mereka juga memanfaatkan tas tradisional mereka yang dibuat dari anyaman bambu bernama Doko.

Doko memiliki bentuk seperti cone es krim atau bentuk “V”. Sekilas, Doko tampak sangat sederhana, tapi bahannya yang kuat sangat efektif untuk menahan beban berat yang dibawa para porter. Sebuah tali dikaitkan pada doko lalu dipasang di sekitar kepala untuk menahan berat beban. Namun, tiap porter menyeimbangkannya dengan menyenderkan barang bawaan pada punggung mereka dan menggunakan tongkat yang disebut tokma selama perjalanan. Beban yang dibawa masing-masing porter bisa melebihi beban tubuh porter itu sendiri, bahkan ada yang bisa membawa beban hingga 120 kilogram atau lebih. Gimana, Sob? Kira-kira kamu sanggup coba juga, nggak?

Nah, itulah beberapa “nenek moyang” dari tas ransel yang biasa kita pakai ke kantor, sekolah, atau jalan-jalan saat ini. Uniknya, setiap negara memiliki teknik yang sama untuk membuat tas keranjang mereka, yaitu dengan cara menganyam. Fungsi tiap tas pun pada dasarnya sama, yaitu untuk mengangkut barang hasil panen, dan fungsi lainnya, menyesuaikan dengan nilai budaya dari negara-negara tersebut.

Apakah kamu pernah melihat langsung salah satu dari tas-tas di atas, Sob? Atau kamu tahu jenis tas tradisional lainnya? Share pengetahuan kamu pada kolom komentar di bawah ini, ya!

Editor: Nisa Ummu Rumaisha


Find Your Travel Essentials

Temukan backpack favorit yang akan setia menemani perjalananmu!

Hikari 19+2 Liter - Legion Blue

Cocok untuk kegiatan sehari-hari, tas ransel Hikari bisa bikin kamu lebih stylish. Berbahan Duralite Nylon yang 2x lebih ringan dan kuat dari bahan biasa.

New York 35+3 Liter - Vibrant Yellow

Tas ransel 35L yang ringan dengan desain yang inovatif, elegan, muat banyak, dan cukup untuk traveling 4-5 hari.

Isumi 26+2 Liter - Castlerock Grey

Tas ransel 26+2 Liter yang ringan dengan desain yang inovatif, elegan, muat banyak. Dilengkapi Trolley Strap untuk mengikatkan tas pada troli koper.


Cari