33 Tahun Menjaga Passion Tetap Hidup: Cerita Christianus Julianto dan Chioda Sports Market

Hanya sekitar tiga menit berjalan kaki dari kawasan Lembong–Kejaksaan, berdiri Chioda Sports Market. Bagi sebagian orang, toko ini mungkin hanya tempat mencari perlengkapan olahraga. Akan tetapi, bagi banyak pelanggan yang sudah mengenalnya sejak lama, Chioda adalah tempat yang menyimpan banyak kenangan. 

Di balik toko yang telah bertahan selama lebih dari tiga dekade ini, ada Christianus Julianto. Pensiun sebagai atlet bulu tangkis nggak membuatnya meninggalkan dunia olahraga. Setelah lulus kuliah, ia justru memilih merintis toko olahraga karena passion yang telah tumbuh sejak lama.

"Kami tuh bisa dibilang keluarga olahraga. Orang tua bisnis produk olahraga, saya mantan atlet bulutangkis, adik saya semuanya di olahraga. Singkatnya, passion kami memang di situ." ujar Christianus

Kecintaannya terhadap olahraga memang tumbuh dari lingkungan keluarga. Karena itu, melanjutkan perjalanan di dunia yang sama terasa seperti langkah yang mengalir begitu saja.

Chioda berdiri pada tahun 1993 di kawasan Cihampelas. Pada tahun pertama, toko ini berfokus menjual sportswear milik orang tuanya. Respons yang diterima cukup baik sehingga koleksi produknya terus bertambah. Seiring berjalannya waktu, Chioda bahkan sempat memiliki tiga cabang.

Bertahan selama 33 tahun tentu bukan perkara mudah. Christianus percaya bahwa sebuah toko perlu memiliki identitas yang membuat orang ingin kembali datang.

"Kuncinya itu di konsep, khususnya di tahun-tahun pertama. Kami ingin menjadi berbeda dengan toko olahraga pada umumnya."

Salah satu caranya adalah menghadirkan layanan "bisa ditunggu". Pelanggan dapat memasang nameset pada jersey, mengganti senar raket, dan menikmati beberapa layanan lainnya tanpa harus kembali di hari lain. Saat itu, layanan seperti ini masih jarang ditemukan, sehingga Chioda menjadi salah satu pelopornya.

Namun, nggak berhenti di situ. Chioda juga menjadi salah satu pelopor konsep semi swalayan. Pengunjung dapat melihat dan memilih produk secara langsung tanpa harus selalu didampingi pramuniaga. Konsep yang kini terasa umum itu, pada masanya menjadi pengalaman baru bagi banyak pelanggan.

Mengikuti perkembangan tren juga menjadi bagian dari perjalanan Chioda. Saat basket sedang sangat digemari, mereka menjual poster pemain basket. Bagi sebagian orang, langkah itu terdengar nggak biasa. Akan tetapi, Christianus melihatnya sebagai cara untuk memahami apa yang sedang dicari pelanggan. Mereka juga berani menghadirkan produk-produk yang sulit ditemukan di toko olahraga lain.

Selama puluhan tahun menjalankan usaha, Christianus menyaksikan perubahan antusiasme masyarakat terhadap olahraga, termasuk saat Piala Dunia berlangsung.

"Jujur, trennya udah berkurang. Kalo dulu, boomingnya udah kayak kacang goreng. Orang berbondong-bondong beli dan pake jersey negara jagoan mereka." ujar Christianus

Meski tren terus berubah, semangat Christianus tetap sama. Hingga hari ini, ia masih menyimpan harapan yang belum tercapai.

"Saya masih bercita-cita punya toko olahraga terlengkap dan terbesar. Masih belum kesampean, harapannya anak saya meneruskan, tapi tergantung dia passion-nya ke sana atau enggak."

Bagi Christianus, sebuah usaha nggak cukup dijalankan karena ingin bertahan, tetapi juga karena ada rasa suka yang terus dipelihara. 

Mungkin itulah yang membuat Chioda tetap berdiri hingga hari ini. Selama 33 tahun, toko ini nggak cuma menjual perlengkapan olahraga, tetapi juga menjaga semangat yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup pemiliknya.

Back to blog

Leave a comment