5 Rekomendasi Desa Wisata Budaya untuk Kenal Lebih Dekat Sisi Lain Indonesia

5 Rekomendasi Desa Wisata Budaya untuk Kenal Lebih Dekat Sisi Lain Indonesia

Liburan nggak selalu harus tentang mengejar tempat wisata yang sedang ramai. Sesekali, coba keluar dari itinerary yang itu-itu saja dan kenali Indonesia dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakatnya. 

Di berbagai daerah, masih ada desa budaya dan desa wisata yang mempertahankan tradisi, rumah adat, kesenian, kerajinan, hingga kebiasaan masyarakat yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Berkunjung ke tempat-tempat seperti ini pun bukan sekadar melihat-lihat, tetapi bisa menjadi kesempatan untuk merasakan langsung pengalaman budaya yang mungkin belum pernah kamu coba sebelumnya. 

Menariknya, beberapa desa wisata nggak cuma mengajak kamu datang dan melihat-lihat. Ada yang memungkinkan wisatawan ikut membuat kerajinan, belajar kesenian tradisional, mengenal rumah adat, hingga mencoba aktivitas khas masyarakat setempat.

Jadi, kalau itinerary liburan mulai terasa monoton, mungkin sekarang waktunya mencoba perjalanan yang sedikit berbeda. Berikut beberapa rekomendasi desa budaya di Indonesia yang bisa kamu eksplor.

Desa Wisata Sade - Lombok

Mengunjungi 5 Desa Wisata Unik di Lombok - Indonesia Travel

Sumber: Indonesia Travel

Kalau biasanya liburan ke Lombok identik dengan pantai dan pemandangan alam, coba sisihkan waktu untuk melihat sisi lain pulau ini lewat kehidupan masyarakat pulau Sasak. Salah satunya bisa kamu temukan di Desa Sade, sebuah desa tradisional yang berada di Rembitan, Lombok Tengah, yang masih mempertahankan adat dan kehidupan khas masyarakat Sasak.

Begitu masuk ke kawasan Desa Sade, hal pertama yang menarik perhatian adalah deretan rumah adat Sasak dengan atap alang-alang dan dinding anyaman bambu. Keunikan rumah tradisional desa ini terletak pada lantainya, yang dilapisi campuran tanah liat dengan kotoran sapi atau kerbau yang telah diolah. Meski terdengar tidak biasa, cara ini secara tradisional dipercaya membantu menjaga lantai tetap kuat, mengurangi debu, dan mengusir serangga setelah mengering. 

Selain rumah adat, kamu juga bisa melihat proses menenun kain khas Sasak menggunakan alat tradisional. Keterampilan ini diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi salah satu bagian penting dari budaya masyarakat Sade. Berkeliling desa bisa jadi cara untuk menikmati suasana Sade, berinteraksi dengan warga, sekaligus melihat berbagai kerajinan lokal. Pada waktu tertentu, kamu juga bisa menyaksikan kesenian tradisional seperti Peresean dan Gendang Beleq.

Desa Penglipuran - Bali

Mengenal Desa Penglipuran: Desa Terbersih di Dunia! - INSTIKI

Sumber: Bali Gateway Indonesia

Kalau biasanya datang ke Bali untuk mencari pantai, kali ini coba masuk sedikit lebih jauh dan melihat sisi Bali yang lebih tradisional. Desa Penglipuran Bali di Kabupaten Bangli menawarkan suasana yang berbeda lewat deretan rumah adat yang tertata rapi, jalan desa yang bersih, dan kehidupan masyarakat yang masih mengikuti aturan adat secara turun menurun. 

Begitu memasuki desa, kamu akan langsung menemukan deretan dengan angkul-angkul, gerbang tradisional Bali, yang tersusun rapi di sepanjang jalan utama. Tata ruang Desa Penglipuran mengikuti konsep Tri Mandala, dengan kawasan suci di bagian utara, area pemukiman di tengah, dan area pemakaman di bagian selatan. Pola ini membuat suasana desa terlihat teratur sekaligus memperlihatkan bagaimana nilai adat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Setelah puas berjalan menyusuri kawasan permukiman, jangan langsung pulang. Penglipuran juga memiliki hutan bambu dengan luas sekitar 45 hektar yang menjadi salah satu daya tariknya. Jalan kaki di antara pepohonan bambu yang rimbun bisa menjadi cara yang lebih santai untuk menikmati suasana desa, apalagi udara di kawasan Bangli terasa cukup sejuk. Kalau ingin membawa pulang sesuatu dari Penglipuran, kamu bisa menemukan berbagai kerajinan lokal seperti anyaman bambu dan ukiran kayu, serta mencicipi kuliner khas seperti loloh cem-cem dan klepon ketela ungu. 

Desa Nglanggeran - Yogyakarta

Desa Wisata Gunung Api Purba, Nglanggeran Sudah Dibuka

Sumber: Joss

Bayangkan bangun pagi di tengah suasana pedesaan, lalu menghabiskan hari dengan trekking, menikmati pemandangan dari atas bukit, dan mengenal kehidupan warga lokal. Pengalaman seperti ini bisa kamu temukan di Desa Wisata Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta. 

Nglanggeran pernah meraih penghargaan Best Tourism Village 2021 dari UNWTO, karena menawarkan perpaduan antara wisata alam, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal. Daya tarik yang paling ikonik tentu saja Gunung Api Purba Nglanggeran. Kawasan ini memiliki formasi batuan vulkanik yang sudah berusia jutaan tahun dan menjadi bagian dari Geopark Global Gunung Sewu. Trekking menuju kawasan puncaknya juga menawarkan pemandangan perbukitan dan lanskap Gunungkidul dari ketinggian. 

Setelah puas trekking, perjalanan bisa dilanjutkan ke Embung Nglanggeran, waduk kecil yang berada di atas bukit dan dikelilingi perbukitan hijau. Sementara itu, Air Terjun Kedung Kandang menawarkan pemandangan yang berbeda karena aliran airnya melewati susunan batuan vulkanik bertingkat di tengah area persawahan. 

Nggak hanya menawarkan keindahan alam, Nglanggeran juga mengajak wisatawan mengenal kehidupan masyarakat lokal. Kamu bisa mencoba berbagai aktivitas seperti mengolah kakao, membuat kerajinan, bertani, hingga mengenal peternakan kambing Etawa. Tersedia juga homestay dan paket live-in untuk pengalaman yang lebih dekat dengan suasana pedesaan.

Jadi, berkunjung ke Nglanggeran bukan cuma soal menikmati pemandangan, tetapi juga trekking, mengeksplorasi alam, dan mengenal aktivitas masyarakat lokal dalam satu perjalanan.

Desa Cireundeu - Cimahi

Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Cimahi

Sumber: Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Cimahi

Di tempat ini, singkong bukan sekadar makanan ringan. Masyarakat Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Cimahi, secara turun-menurun menjadikan singkong sebagai sumber pangan utama dan mengolahnya menjadi rasi atau beras singkong. Tradisi ini sudah dilakukan sejak sekitar 1918 dan menjadi salah satu identitas yang membuat Cireundeu berbeda dari kampung adat lainnya.

Selain mengenal rasi, berkunjung ke Cireundeu juga memberi kesempatan untuk melihat kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan adat dan budaya leluhur. Salah satunya adalah tradisi 1 Sura, yang menjadi salah satu perayaan penting bagi masyarakat setempat. Dalam berbagai kegiatan adat, kamu juga bisa menemukan kesenian tradisional seperti gondang, karinding, dan angklung buncis.

Menariknya, masyarakat Cireundeu tidak memaknai adat sebagai sesuatu yang harus menutup diri dari perkembangan zaman. Mereka memegang prinsip “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman”, yang menggambarkan sikap untuk tetap mempertahankan identitas dan nilai leluhur sambil mengikuti perubahan zaman. Prinsip ini juga terlihat dari cara masyarakat menjaga lingkungan melalui pembagian kawasan seperti Leuweung Larangan, Leuweung Tutupan, dan Leuweung Baladahan. 

Desa Baduy - Banten

Baduy : Pengalaman Tak Terlupakan | Jurnalpost

Sumber: Jurnal Post

Siapa yang nggak tahu Baduy? masyarakat adat yang tinggal di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, ini dikenal karena masih mempertahankan cara hidup dan berbagai tradisi leluhur di tengah perkembangan zaman. Kawasan Baduy sendiri terbagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Luar, dengan aturan adat serta tingkat keterbukaan terhadap dunia luar yang berbeda. Baduy dalam dikenal lebih ketat dalam mempertahankan tradisi, sementara Baduy Luar memiliki aturan yang lebih fleksibel.

Perjalanan menuju kawasan Baduy juga menjadi bagian dari pengalaman. Untuk menuju Baduy Dalam, wisatawan perlu berjalan kaki melewati jalur perkampungan, persawahan, jalan berbatu, hingga jembatan bambu. Sesampainya di sana, suasananya terasa jauh berbeda dari kehidupan perkotaan. Rumah-rumah tradisional dibuat menggunakan material alami seperti kayu dan bambu, sementara kehidupan sehari-hari masyarakat masih berlangsung dengan sederhana. 

Sesampainya di kawasan perkampungan, suasananya terasa jauh berbeda dari kehidupan sehari-hari di kota. Rumah-rumah masyarakat Baduy dibuat menggunakan material alami seperti kayu, bambu, rotan, dan ijuk. Di Baduy Dalam, rumah tradisional juga dibangun tanpa menggunakan paku, melainkan memanfaatkan ikatan dan pasak untuk menyatukan bagian-bagiannya. Salah satu hal yang membuat pengalaman di Baduy berbeda adalah kesempatan untuk melihat langsung kehidupan masyarakat yang masih berpegang pada pikukuh, yaitu aturan adat yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. 

Dari Desa Budaya ke Perjalanan Berikutnya

Setiap perjalanan punya ceritanya sendiri. Mulai dari berjalan kaki menyusuri kampung adat, trekking menuju destinasi alam, hingga berkeliling menikmati aktivitas masyarakat lokal, semuanya tentu membutuhkan perlengkapan traveling yang praktis dan nyaman dibawa. Karena itu, memilih tas untuk traveling yang nyaman dan cukup untuk membawa barang penting bisa membuat perjalanan terasa lebih praktis. 

Selain memilih tas yang sesuai dengan kebutuhan perjalanan, travel pouch dan organizer bisa membantu menyimpan barang-barang kecil agar lebih mudah ditemukan. Misalnya, Seoji Toiletries Pouch bisa digunakan untuk menyimpan perlengkapan mandi dan kebutuhan personal selama perjalanan, sementara Satur Charger Pack dapat membantu menjaga charger, kabel, dan aksesori elektronik tetap rapi. Keduanya tersedia di koleksi Traveling TORCH.

Dengan perlengkapan yang lebih terorganisir, kamu bisa lebih fokus menikmati perjalanan, mulai dari menyusuri kampung adat, trekking, sampai mengenal kehidupan masyarakat lokal.

Sudah menentukan destinasi berikutnya? Siapkan perjalananmu dan lengkapi kebutuhan traveling bersama koleksi TORCH.

Back to blog

Leave a comment