Imah Babaturan, Tempat yang Mengingatkan Kalau Hal Baik Nggak Selalu Berawal dari Rencana
Ada tempat yang terasa akrab bahkan sebelum kita benar-benar mengenalnya.
Mungkin karena suara orang-orang yang saling menyapa terdengar lebih keras daripada suara kendaraan di luar. Atau mungkin karena aroma masakan dari dapur bercampur dengan obrolan yang mengalir tanpa dibuat-buat. Rasanya seperti bertamu ke rumah teman lama, suasana terasa hangat, santai, dan hal itu secara nggak langsung membuat kita nyaman.
Begitu juga kesan pertama saat menginjak kaki di Imah Babaturan.
Sulit membayangkan bahwa tempat yang hari ini menjadi salah satu warna favorit banyak orang di Bandung justru lahir dari sebuah fase yang penuh ketidakpastian.
"Waktu itu bikin warung dianggap sebagai sebuah solusi," cerita Anggi. Suaminya, Uyul, baru saja memutuskan berhenti bekerja di sebuah clothing brand di Bandung. Di tengah situasi itu, membuka warung menjadi langkah yang mereka pilih. Bukan karena sudah punya modal besar atau perencanaan yang matang, melainkan karena harus terus berjalan.
Meski begitu, ada satu mimpi yang memang sudah lama disimpan.
"Emang cita-cita suami juga sih, pengen banget bikin warung," ujar Anggi.
Barangkali, memang begitu cara hidup bekerja. Kadang mimpi datang bukan pada waktu yang kita pilih, melainkan pada waktu yang paling membutuhkannya.
Sebelum ada Imah Babaturan, rumah Anggi dan Uyul sebenarnya sudah lebih dulu menjadi tempat berkumpul.
Teman-teman datang untuk makan, mengobrol, lalu kembali lagi di lain waktu. Sampai akhirnya mereka sadar, rumah itu pelan-pelan sudah menjadi ruang bersama.
"Kami sering banget ngundang temen buat makan di rumah. Lama-lama mereka dateng dan nongkrong sendiri. Terus kepikiran mindahin tempat tongkrongan dari rumah ke sini."
Nggak ada konsep besar yang ingin diwujudkan. Mereka hanya mencoba mempertahankan rasa nyaman yang selama ini sudah hadir.
Mungkin itu sebabnya Imah Babaturan nggak pernah terasa seperti tempat yang berusaha menjadi "instagramable". Yang membuat orang betah justru sesuatu yang lebih sederhana: suasananya.
Kalau pernah datang ke sana, kamu mungkin langsung mengenali meja dan kursi kayu berukuran kecil yang memenuhi ruangan. Banyak orang menganggapnya sebagai identitas visual Imah Babaturan.
Padahal, semua itu terjadi tanpa direncanakan.
"Waktu jalan, baru sadar kalau bikin meja sama kursi itu mahal."
Di saat modal harus dihemat, seorang teman memberi kabar bahwa ada sebuah madrasah di Cimahi yang akan dibongkar dan menjual meja serta kursinya.
"Akhirnya kami beli. Temen kami bantu cat, dan sampai sekarang masih dipakai," Anggi lalu tertawa kecil. "Jadi itu bukan konsep. Lebih karena kami nggak punya duit waktu itu."
Lucunya, hal yang dulu muncul karena keterbatasan justru menjadi sesuatu yang paling diingat orang ketika datang ke Imah Babaturan.
Seolah mengingatkan bahwa nggak semua identitas lahir dari strategi branding. Kadang, ia tumbuh sendiri dari cerita yang jujur.
Sebelas tahun berlalu.
Di dunia kuliner, mempertahankan rasa sering kali jauh lebih sulit daripada membuka usaha baru. Namun bagi Anggi, jawabannya ternyata sederhana.
"Kuncinya ya hadir."
Bukan sekadar membuka pintu setiap hari, tetapi benar-benar ada di tempat itu.
"Bisnis itu harus ditongkrongin, dijagain, nggak bisa ditinggal."
Kalau ada komplain, Anggi dan Uyul ingin mendengarnya langsung. Kalau ada masukan, mereka ingin memahami alasannya. Dari percakapan-percakapan kecil itulah mereka belajar mengenal pelanggan, memperbaiki rasa, bahkan menemukan teman baru.
Di Imah Babaturan, hubungan dengan pelanggan nggak berhenti di meja kasir. Ia terus hidup lewat obrolan-obrolan yang mungkin terlihat biasa, tetapi perlahan membentuk kepercayaan.
Dalam perjalanan sebelas tahun itu, tentu pernah muncul kesempatan untuk berkembang lebih besar.
Anggi mengaku sempat hampir menandatangani sebuah kontrak.
Namun, langkah itu akhirnya nggak jadi diambil.
"Nanya ke diri sendiri sih... ini kan kayak anak," ujar Anggi
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup menjelaskan bagaimana mereka memandang sepenuh hati pada usaha ini.
Bukan sekadar bisnis yang harus terus bertambah besar, melainkan sesuatu yang tumbuh bersama mereka. Sesuatu yang ingin dijaga dengan ritme dan cara yang mereka yakini.
Mungkin karena itulah Imah Babaturan masih terasa sama, bahkan setelah lebih dari satu dekade.
Hangatnya nggak dibuat-buat.
Akrabnya nggak dirancang.
Dan setiap orang yang datang selalu punya ruang untuk merasa menjadi bagian dari "babaturan" itu sendiri.
Mungkin itu yang membuat Imah Babaturan terasa berbeda: berawal dari rumah sederhana yang pintunya selalu terbuka, lalu perlahan menjadi ruang yang membuat siapa pun merasa diterima secara hangat.