Laki-Laki Pemalu yang Menaklukkan Panggung, Mengenal Guzman Sige Lebih Dekat

Setelah bertemu Guzman Sige, lagu Laki-Laki Pemalu dari Efek Rumah Kaca jadi terasa punya wajah. Bukan karena Guzman adalah sosok yang pendiam sepanjang waktu, melainkan karena ada kontradiksi menarik dalam dirinya. Di atas panggung, ia bisa begitu berani menggerutu tentang penguasa, kota, sampai hal-hal yang bikin hidup terasa ruwet. Tapi begitu turun panggung, urusan meminta password WiFi saja bisa bikin malu.

Bahkan, menurut cerita teman sekantornya dulu, Guzman pernah tiga bulan tethering menggunakan HP sendiri untuk bekerja karena terlalu malu meminta password WiFi kantor.

Sebuah fakta yang cukup lucu kalau mengingat bagaimana sosok Guzman di atas panggung.

Setelah menonton pertunjukan The Art of Kukulutus pada 2025 lalu, pertemuan secara personal dengan Guzman menjadi pengalaman yang sedikit mengejutkan. Sosok yang materi stand up-nya terdengar begitu lucu dan berani ternyata punya sisi yang jauh lebih pemalu ketika sedang nggak berada di atas panggung.

Tapi, rasa malu itu ternyata bukan sesuatu yang baru muncul belakangan. Justru, perasaan minder dan malu sudah menjadi bagian dari perjalanan Guzman sejak kecil.

 

Lika-Liku Laki-Laki Pemalu

Guzman tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya berbeda dari anak laki-laki lain di lingkungan pertemanannya. Ketika teman-temannya bisa bermain bola, kelereng, atau layangan, ia merasa nggak punya kemampuan yang sama.

“Pemalunya saya teh berasal dari rasa minder, karena dulu di lingkungan pertemanan bukan anak yang punya skill set anak-anak cowok. Yang lain bisa main bola, saya nggak. Yang lain bisa main kelereng, saya nggak. Yang lain main layangan, saya nggak. Jadi susah untuk diterima di pergaulan,” ujar Guzman.

Dari sana, rasa minder perlahan berubah menjadi rasa malu. Namun, ada hal yang menarik: meskipun pemalu, Guzman sebenarnya sudah punya keinginan untuk tampil sejak kecil.

Kalau ada lomba drama di madrasah, ia ingin ikut. Ada lomba nasyid, ia juga tertarik untuk tampil.

Jadi, sejak dulu sudah ada dua sisi dalam diri Guzman yang terus bertemu: ingin tampil, tetapi juga merasa malu.

“Itu teh pertempuran yang nggak pernah selesai. Sampai hari ini pun masih struggle buat menaklukkan rasa malu dan rasa minder itu,” jawab Guzman.

Mungkin, justru dari pertempuran itulah karakter Guzman sebagai komika terbentuk.

 

Ketika Akhirnya Ada yang Mau Mendengarkan

Perjalanan Guzman di dunia stand up comedy sebenarnya bermula dari alasan yang cukup sederhana. Ia cuma ingin punya foto ketika open mic untuk diunggah ke Facebook.

“Materinya nggak lucu nggak masalah, nggak peduli,” ujar Guzman.

Tapi, semakin sering tampil, ada sesuatu yang membuat Guzman bertahan. Ia menemukan perasaan yang sebelumnya jarang ia rasakan: didengarkan.

“Lama-kelamaan saya juga jadinya suka sama keseniannya, karena ketika stand up itu pertama kalinya saya ngerasa kalau omongan saya didengar banyak orang. Perasaan didengarkan teh ternyata menyenangkan,” jawab Guzman.

Pengalaman tersebut menjadi penting karena sejak sekolah, Guzman merasa dirinya bukan termasuk orang yang mudah mendapatkan perhatian.

Menurut Guzman, biasanya ada dua tipe siswa yang lebih mudah didengarkan di sekolah: mereka yang pintar atau mereka yang dominan. Dominan di sini bisa karena nakal atau populer.

Guzman merasa dirinya nggak termasuk keduanya.

“Sama anak-anak nakal nggak dianggap, sama orang-orang yang pinter nggak didengar. Dari dulu kayak gitu posisinya, termasuk di rumah. Nah, makanya ketika nemu stand up comedy teh jadinya menyenangkan. Orang yang nggak kenal saya terpaksa harus mendengarkan saya ngomong,” ujar Guzman.

Dari yang awalnya cuma ingin punya foto untuk Facebook, stand up comedy akhirnya menjadi ruang bagi Guzman untuk menemukan suaranya sendiri.

 

Menjadi Diri Sendiri Lewat Bahasa Sunda

Kalau ada satu hal yang membuat Guzman mudah dikenali, mungkin salah satunya adalah caranya menggunakan bahasa Sunda dalam stand up comedy.

Pilihan tersebut ternyata nggak langsung datang karena rasa bangga menggunakan bahasa daerah. Ada proses gagal dan mencari bentuk diri yang lebih cocok di baliknya.

Guzman pernah mencoba stand up menggunakan bahasa Indonesia, termasuk ketika menjadi opener Gilbhas di Jakarta di hadapan sekitar 1.200 penonton.

Ada nama-nama besar di sana, tetapi Guzman merasa penampilannya nggak bekerja dengan baik.

“Saya ngerasa stand up pakai bahasa Indonesia teh teu lucu weh. Dari situ mikir, kayaknya memang harus jadi diri sendiri. Apa nih diri Gusmansyur? Orang Sunda, ya udahlah pakai bahasa Sunda,” ujar Guzman.

Pilihan tersebut akhirnya menjadi bagian penting dari identitasnya sebagai komika.

Bagi Guzman, jalan menuju panggung yang lebih luas nggak harus selalu dimulai dengan meninggalkan daerah asal. Ia justru ingin membangun namanya dari regional Bandung, kemudian Jawa Barat, Pulau Jawa, sampai kalau memungkinkan ke tingkat internasional.

“Saya ingin menyundakan dunia,” kata Guzman sambil bercanda.

Sebuah ambisi yang terdengar absurd, tetapi juga cukup menggambarkan bagaimana Guzman melihat identitasnya sendiri. Ia nggak perlu menjadi orang lain untuk bisa dikenal.

 

Stand Up yang Mengubah Cara Guzman Melihat Dunia

Belasan tahun berkarya di stand up comedy membuat Guzman mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kemampuan membuat orang tertawa.

Hal pertama yang paling ia rasakan adalah rasa percaya diri.

“Yang paling berasa adalah rasa percaya diri. Berangkat dari anak yang minderan, pada akhirnya bisa ngomong di depan banyak orang tuh sebuah berkah buat saya,” ujar Guzman.

Kemampuan tersebut bahkan terbawa ke kehidupan akademiknya. Guzman pernah merasa skripsinya nggak terlalu bagus, tetapi ketika sidang ia bisa tampil cukup meyakinkan karena kemampuan public speaking yang sudah terbentuk lewat stand up comedy.

Selain percaya diri, komunitas stand up juga membuat wawasannya semakin terbuka.

Bertemu banyak orang dengan latar belakang berbeda membuat Guzman belajar bahwa perbedaan nggak selalu harus berakhir dengan penolakan.

“Di komunitas stand up banyak banget ketemu sama berbagai macam manusia dengan latar belakang yang beda. Karena akhirnya ketemu dan bisa mendengar sudut pandang orang lain, jadinya bisa lebih toleran lah ketika kita berbeda pandangan,” jawab Guzman.

Dari panggung yang awalnya hanya menjadi tempat untuk didengarkan, Guzman justru belajar menjadi orang yang lebih mau mendengarkan.

 

Dari Panggung ke Kehidupan Nyata

Stand up comedy juga membawa Guzman bertemu dengan beberapa nama yang sebelumnya hanya ia kenal sebagai idola.

“Saya bisa ketemu sama idola masa kecil. Bisa kolaborasi sama Rocket Rockers, Agus Ringgo, Vino G Bastian. Bahkan yang lumayan mengagetkan, saya di-follow sama Vicky Burgerkill. Tapi yang paling random, beberapa bulan lalu di-follow sama Dian Nitami,” ujar Guzman.

Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana sesuatu yang awalnya dilakukan tanpa ekspektasi besar ternyata bisa membawa Guzman ke berbagai pengalaman yang nggak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Termasuk soal pernikahan.

Sekitar enam sampai tujuh bulan sebelum menikah, Guzman masih harus memikirkan biaya pernikahannya yang belum tertutup. Karena merasa nggak punya keahlian lain selain stand up comedy, ia pun memutuskan membuat sebuah show. Waktunya cukup mepet karena show tersebut digelar pada April, sementara pernikahannya berlangsung pada Mei.

“Nikah juga dari stand up. Nggak tahu bakal dapat sponsor atau nggak, bakal laku atau nggak juga nggak tahu,” ujar Guzman.

Untungnya, show tersebut berjalan lancar dan penghasilannya bisa membantu menutup biaya pernikahan.

Sekali lagi, stand up comedy yang awalnya hanya menjadi tempat untuk mencari perhatian justru ikut membentuk perjalanan hidupnya.

 

Bandung yang Berubah di Mata Guzman

Sebagai pemuda asli Dayeuhkolot, Guzman juga punya hubungan yang cukup panjang dengan Bandung dan wilayah di sekitarnya.

Ketika ingin menonton Jolly Jumper di PVJ, ia sampai harus bertanya kepada orang lain sambil pura-pura menjadi orang Batak karena malu mengaku sebagai orang Bandung yang nggak tahu jalan.

“Dulu pergaulan saya hanya sekitaran Dayeuhkolot, Soreang, Baleendah, Bojongsoang. Nggak pernah lebih jauh dari Pizza Hut Buah Batu. Ke BIP aja nyasar,” ujar Guzman.

Karena jarang keluar dari lingkaran tersebut, Bandung dulu terasa seperti kota yang besar dan wah baginya.

Namun, setelah mengenal stand up comedy dan bertemu lebih banyak orang dari berbagai daerah, perspektifnya berubah.

“Pokoknya saya ngerasa dulu Bandung teh kota yang wah gitu, sebelum kenal stand up. Setelah kenal stand up mah jadi ketahuan ternyata Bandung nggak lebih baik daripada Kabupaten Bandung. Sama-sama ada rujitnya,” jawab Guzman.

Sekarang, keresahan Guzman terhadap Bandung lebih banyak berkaitan dengan kenyamanan sebagai tempat tinggal. Mulai dari kemacetan, kriminalitas, trotoar yang nggak ramah untuk semua orang, sampai transportasi publik.

Ia juga membandingkannya dengan Jakarta yang menurutnya punya pilihan transportasi publik lebih terintegrasi.

“Keresahan terbesar saya ke Bandung adalah udah mulai kurang nyaman buat jadi tempat tinggal. Macetnya, begalnya. Dulu sekitar 2015-an kalau lagi galau, motoran jam dua pagi keliling Bandung teh masih enak. Sekarang mah kayaknya nggak deh. Takut euy,” ujar Guzman.

Keresahan tersebut kemudian menjadi bagian dari materi yang ia bawa ke atas panggung. Karena bagi Guzman, mungkin memang itu salah satu fungsi stand up comedy: mengubah hal-hal yang menggerutu di kepala menjadi sesuatu yang bisa dibicarakan bersama.

 

Laki-Laki Pemalu, Penakluk Panggung

Ada alasan kenapa setelah bertemu Guzman, lagu Laki-Laki Pemalu terasa seperti soundtrack yang pas.

Bukan karena Guzman selalu pemalu, melainkan karena rasa malu itu ternyata nggak pernah benar-benar hilang. Ia hanya belajar hidup berdampingan dengan rasa tersebut.

Dari anak yang minder karena merasa nggak punya kemampuan seperti teman-temannya, Guzman tumbuh menjadi seseorang yang berani berdiri di depan ratusan orang dan membuat keresahannya didengarkan.

Ironisnya, orang yang pernah tiga bulan tethering karena malu meminta password WiFi justru bisa berdiri di panggung dan mengkritik banyak hal dengan begitu berani.

Dan mungkin, itulah Guzman Sige.

Laki-laki pemalu yang nggak pernah benar-benar berhenti merasa malu, tetapi terus belajar menaklukkannya satu panggung demi satu panggung.

Selama masih stand up comedy, ia juga merasa akan terus “kukulutus”.

“Selama saya stand up comedy mah kayaknya bakal tetap kukulutus, karena stand up teh seni menggerutu,” ujar Guzman.

Kalau ada yang bilang Guzman jauh lebih lucu dan berani daripada Pandji, mungkin perbandingan itu memang nggak perlu dicari pemenangnya. Keduanya punya cara masing-masing dalam membawa keresahan ke atas panggung.

Tapi, ada satu hal yang rasanya sulit dibantah dari Guzman: ia berani menjadi dirinya sendiri.

Dengan bahasa Sunda, dengan rasa minder, dengan keresahan tentang Bandung, dan tentu saja dengan segala kekukulutusannya.

Mungkin, laki-laki pemalu ini memang nggak sedang berusaha menghilangkan rasa malunya.

Ia cuma sedang belajar menaklukkannya.

Back to blog

Leave a comment