LawangBuku, Tempat Buku Bekas Selalu Punya Kehidupan Baru

Ada aroma khas yang nggak bisa ditemukan di toko buku lain. 


Bukan aroma kopi, bukan juga wewangian ruangan. Melainkan bau kertas yang sudah melewati puluhan tahun, halaman kertas yang mulai menguning, dan sampul yang perlahan menyimpan jejak waktu. 


Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya buku bekas.


Bagi Deni Rachman, di situlah setiap cerita memulai hidupnya kembali. 


Di sebuah bangunan sederhana Jln. Garut No. 2,  Bandung, LawangBuku telah menjadi rumah bagi ribuan buku. Tempat ini bukan sekadar toko buku. Ia lebih menyerupai ruang temu antara masa lalu dan masa kini, antara orang yang ingin berburu buku dengan mereka yang sekadar ingin membaca tanpa terburu-buru.

Sudah hampir seperempat abad Deni berkecimpung di dunia perbukuan. Awalnya, ia menjual buku-buku baru. Seiring waktu, perjalanannya membawanya lebih dekat dengan buku-buku yang pernah dimiliki orang lain.

Misinya ternyata nggak pernah berubah.

Membuka akses terhadap pengetahuan seluas-luasnya, melalui buku.

Deni menyebut awal mula usahanya dengan istilah yang membuatnya tersenyum sendiri.

"Saya usaha buku bekas berangkat dari kolekdol: ya dikoleksi, ya dijual,” ujarnya sambil tertawa.

Dari sana, kecintaannya pada buku bekas semakin tumbuh. Bukan hanya karena isinya, melainkan juga karena cerita yang ikut menempel di setiap lembarnya.

"Senengnya buku bekas itu mulai dari aroma kertasnya, desain visualnya. Dulu banyak yang masih dilukis manual, jadi lebih antik. Terus, kecakapan orang lama mengenai pengetahuan itu lebih mendalam."

Di tangan Deni, buku nggak pernah diperlakukan sebagai barang bekas. Baginya, setiap buku menyimpan jejak perjalanan yang nggak berhenti saat berpindah tangan. Justru, di sanalah sebuah cerita mendapat kesempatan untuk terus berlanjut.

Setiap buku punya perjalanan. Punya masa lalu. Dan sering kali, punya kesempatan untuk menemukan pembaca baru.

[    ]

Kalau ingin mulai mengoleksi buku lawas, Deni punya empat langkah sederhana:

  1. Lihat sampul depannya.

  2. Periksa sampul belakangnya.

  3. Pastikan punggung bukunya masih baik.

  4. Lalu, jangan lupa membuka halaman kolofon.

"Di situ ada informasi cetakan ke berapa. Biasanya cetakan pertama nilainya lebih tinggi," ujar Deni

Setelah itu, barulah perhatikan kondisi isi bukunya, apakah ada halaman yang rusak, terkena rayap, salah cetak, atau masih utuh. 

Bagi orang yang baru mengenal buku bekas, mungkin hal-hal itu terdengar sepele. Namun, bagi para kolektor, setiap detail kecil bisa menjadi bagian dari cerita yang membuat sebuah buku terasa semakin berharga.

Di LawangBuku, Deni membagi koleksinya menjadi tiga kategori: lawas, langka, dan antik.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah sebuah Alkitab berbahasa Sunda yang diterbitkan pada tahun 1891.Cetakannya masih di Belanda. Bisa jadi waktu itu di Nusantara belum ada mesin cetak, jadi dikirim dari Amsterdam."

Mendengar cerita Deni, buku itu terasa lebih dari sekadar benda. Ia adalah saksi perjalanan bahasa, budaya, dan sejarah yang berhasil bertahan lebih dari satu abad.

Namun, di balik koleksi-koleksi yang menyimpan begitu banyak cerita, ada satu hal lain yang tak kalah menarik dari LawangBuku: pintunya. 

Pintu yang benar-benar terbuka.

Di sini, siapa pun boleh datang untuk membaca, tanpa harus membeli.

"Saya membolehkan orang buka plastik bukunya. Nggak apa-apa, baca aja," ujar Deni

Tentu, untuk buku-buku yang sangat langka atau antik, Deni akan membantu membukanya agar kondisinya tetap terjaga.

Baginya, yang terpenting bukan transaksi.

"Yang penting kan lawangnya, aksesnya, selalu terbuka."

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi mungkin itulah alasan tempat ini dinamai LawangBuku.

Bukan sekadar toko yang menjual buku, melainkan sebuah "lawang"—pintu yang memberi siapa saja kesempatan untuk masuk, membaca, dan belajar.

Di penghujung obrolan, kami mengajukan satu pertanyaan yang terdengar sederhana. “Kalau terjadi kebakaran, dan hanya boleh menyelamatkan satu buku, buku apa yang akan dipilih?”

"Waduh... dua lah, nego,” kata Deni sambil tertawa.

Jawabannya adalah Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer dan Kuliah Tauhid.

"Keduanya pondasi buat personal dan mewarnai perjalanan berdagang sekaligus hidup saya." jawab Deni

Barangkali, memang begitulah hubungan seseorang dengan buku.

Ada buku yang selesai dibaca.

Ada juga buku yang diam-diam ikut membentuk cara kita melihat dunia.

Setelah hampir dua puluh lima tahun menjaga LawangBuku, harapan Deni ternyata bukan tentang memiliki toko yang lebih besar atau koleksi yang lebih banyak.

Yang ingin ia bangun adalah sesuatu yang lebih panjang usianya.

"Kita bergerak mandiri, kolektif, dan kolaboratif. Harapannya bonding ini tetap terjaga."

Bagi Deni, yang sedang dirawat bukan hanya tumpukan buku, melainkan sebuah ekosistem.

Tempat orang-orang saling berbagi pengetahuan, saling menemukan, dan saling menjaga agar cerita-cerita lama nggakikut hilang ditelan zaman.

Karena ketika sebuah buku berpindah tangan, sesungguhnya yang berpindah bukan hanya kertas dan tinta.

Ada gagasan yang terus hidup.

Ada pengetahuan yang terus berjalan.

Dan selalu ada seseorang di balik pintu LawangBuku yang percaya bahwa akses terhadap ilmu seharusnya tetap terbuka, untuk siapa saja.

Back to blog

Leave a comment