Lucky Sarwo Pengen Jadi Tukang Bubur Naik Haji, Pulangnya Naik Alphard

Lucky Sarwo Pengen Jadi Tukang Bubur Naik Haji, Pulangnya Naik Alphard

Kalau ketemu sama Lucky Sarwo beberapa tahun lalu, mungkin topik pembicaraan akan banyak berputar di dunia hiburan. Ia pernah nge-manage berbagai seniman dan atlet, mulai dari Jamie Aditya, Rock N Roll Mafia, Fluxcup, Pevi Permana, sampai bangun manajemennya sendiri.

Namun, nyatanya hidup mengarahkan Lucky ke persimpangan yang sebelumnya nggak pernah ia bayangkan. Serangkaian kata gagal membuat Lucky dan sang istri perlu membuka lembaran baru. Kali ini, bukan di balik panggung, melainkan di balik semangkuk bubur hangat.

Sampai saat ini, banyak orang mengenal Hēng88 sebagai salah satu destinasi sarapan yang diminati di Bandung. Bubur Mandarin bertekstur lembut dan batagor spesialnya sering habis dalam waktu cepat. Tapi, sebelum dikenal seperti sekarang, Hēng88 berawal dari sebuah harapan sederhana yang bahkan tersimpan di dalam namanya.

“Hēng itu artinya prosperity, 88 itu melambangkan infinity. Jadi harapannya semoga Hēng88 membawa kemakmuran yang nggak akan terputus...” kata Lucky.

Nama itu menjadi doa yang terus dibawa sejak hari pertama mereka membuka gerobak.

Pilihan menunya pun dibuat sesederhana mungkin. Nggak banyak variasi, tetapi setiap detailnya dipikirkan dengan matang.

“Hēng88 produknya spesifik, kami cuma ngejual bubur mandarin dan batagor. Cuma dari segi rasa, penyajian, dan experience kami coba menghadirkan sesuatu yang beda.”

Bubur Mandarin menjadi menu utama yang langsung mencuri perhatian. Teksturnya sangat lembut dengan tambahan irisan halus jahe dan bawang putih cincang yang memberikan aroma khas. Penyajiannya juga dibuat berbeda, menggunakan mangkuk keramik bermotif jadul lengkap dengan sendok berwarna emas yang membuat pengalaman menyantap bubur terasa lebih hangat sekaligus berkesan.

Berlokasi di Jalan Trunojoyo No. 8, tepat di area parkir Paper Official Store, Hēng88 buka setiap Selasa hingga Minggu mulai pukul 06.00 WIB sampai habis. Nggak sedikit pelanggan yang sengaja datang pagi-pagi biar gak kehabisan.

Namun, perjalanan menuju antrean panjang itu nggak terjadi dalam semalam.

Lucky masih mengingat betul bagaimana enam bulan pertama terasa begitu berat. Ada hari-hari ketika mereka datang dengan semangat, tetapi pulang dengan dagangan yang hampir tak tersentuh.

“Di enam bulan pertama, gak selalu indah. Sering banget kami jualan, yang laku cuma empat. Makanya gua sama istri selalu saling menguatkan. Mau rame, mau sepi, kami berusaha konsisten menyajikan kualitas yang terbaik,” kenangnya.

Di masa-masa seperti itulah, konsistensi menjadi satu-satunya hal yang bisa mereka pegang. Nggak ada jalan pintas. Nggak ada jaminan akan ramai esok hari. Yang bisa dilakukan hanyalah terus menjaga kualitas, sekalipun pembelinya belum banyak.

Kerja keras itu pelan-pelan mulai kelihatan hasilnya. Hēng88 makin sering muncul di media sosial, videonya beredar dari satu akun ke akun lain, lalu orang-orang mulai datang karena penasaran. Tapi buat Lucky, viral bukan sesuatu yang bisa dirayakan terlalu lama.

“Viral ini kayak pedang bermata dua. Satu sisi berkah, di lain sisi, kalo kami gak bisa ngejaga kualitas produk, servis, dan improvement, itu jadi bumerang yang bisa bikin flop seketika.”

Justru setelah orang mulai mengenal Hēng88, pekerjaan mereka terasa makin berat. Sekali pelanggan datang mungkin karena rasa penasaran. Tapi supaya mereka datang lagi, ada hal lain yang harus terus dijaga.

“Improvement itu yang kami jaga setiap hari biar customer jadi repeat, kepercayaannya terbangun, dan akhirnya bisa long last.”

Mungkin itu yang bikin Hēng88 nggak berhenti membenahi hal-hal kecil. Rasa, pelayanan, sampai pengalaman makan, semuanya terus diperhatikan karena di situlah kepercayaan pelanggan dibangun.

Ngomongin penjual bubur rasanya belum afdol kalau belum nanya dua hal. Yang pertama, cita-citanya apa. Yang kedua, buburnya diaduk atau enggak.

Lucky malah menjawab pertanyaan pertama dengan senyum lebar.

“Harapan dari awal kami jualan bubur tuh memang goals-nya naik haji. Setelah naik haji, pulangnya naik alphard, abis itu ke indomaret naik mio.”

Jawaban yang spontan itu langsung bikin suasana mencair. Ada mimpi besar yang disampaikan dengan cara yang sederhana, khas Lucky.

Kalau soal bubur, jawabannya nggak pakai mikir lama.

“Gua pribadi, diaduk. Kalo case-nya di bubur Hēng88, tiap-tiap elemen punya fungsi masing-masing. Cakwe, pangsit, jamur shitake ngasih tekstur kering dan chewy. Ditambah aromatik dari jahe, daun coriander, dan bawang putih goreng. Itu semua kalo diaduk dalam satu suapan, masuk tenggorokan, meledak tuh. Itulah semangkuk kenikmatan untuk mengawali pagi kalian semua.”

Dari caranya bercerita, kelihatan kalau Lucky benar-benar menikmati apa yang sedang ia kerjakan. Semangkuk bubur buatnya bukan cuma soal mengenyangkan perut, tapi tentang bagaimana setiap elemen bisa menyatu dan meninggalkan kesan untuk orang yang menikmatinya.

Menjelang akhir obrolan, Lucky kembali bicara soal harapan. Kali ini bukan lagi tentang dirinya, melainkan tentang Hēng88 yang suatu hari nanti bisa tumbuh lebih besar dan membawa manfaat buat lebih banyak orang.

“Kalo ada umur, ada rezeki, semoga bisa buka gerobak-gerobak selanjutnya, berkontribusi buka lapangan pekerjaan buat orang. Meski gak mudah, tapi jalanin terus, sih. Karena kuncinya itu. Kalo kita melakukan dengan baik, hasilnya juga akan baik.”

Mungkin itu yang bikin cerita Hēng88 terasa dekat. Di balik semangkuk bubur yang sekarang ramai dibicarakan, ada perjalanan yang dimulai dari hari-hari ketika yang terjual cuma empat mangkuk. Ada dua orang yang memilih tetap datang keesokan paginya, tetap menjaga kualitas, dan percaya kalau hal-hal baik memang butuh waktu untuk bertumbuh.

Kalau Hēng88 buka gerobak selanjutnya, menurutmu paling cocok di daerah mana?

Back to blog

Leave a comment